HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 50 Mizan (Timbangan) dan Penimbangan Amal (Bagian 1)

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 50 Mizan (Timbangan) dan Penimbangan Amal (Bagian 1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-50 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Mizan (Timbangan) Dan Penimbangan Amal (Bagian 1)”.

Diantara beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan adanya mizan dan penimbangan amal.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٲزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٌ۬ شَيۡـًٔ۬اۖ
“Dan Kami akan meletakkan timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tidak ada seorang pun yang akan dizhalimi sedikit pun.” (QS Al Anbiya: 47)

Sebagian ulama berpendapat bahwasanya:
◆ Penimbangan amal dilakukan setelah hisab karena hisab adalah untuk menghitung amalan, sedangkan penimbangan adalah untuk:
⑴ Menampakkan hasil dari perhitungan tersebut.
⑵ Dan menunjukkan keadilan Allah Subhānahu wa Ta’āla.

◆ Akan ditimbang hasanah dan sayyiah dengan timbangan yang hakiki;
• ⑴ Memiliki 2 kiffah (piringan timbangan).
• ⑵ Memiliki sifat berat dan ringan.
• ⑶ Bisa miring karena amalan.

Allahu a’lam tentang hakikatnya dan bagaimananya.

Allah Subhānahu wa Ta’āla:
فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٲزِينُهُ ۥ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ (١٠٢) وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٲزِينُهُ ۥ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ فِى جَهَنَّمَ خَـٰلِدُونَ (١٠٣)
“Dan barangsiapa yang berat timbangannya maka merekalah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya maka merekalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri. Di dalam Jahannam mereka akan kekal.” (QS Al Mu’minun: 102-103)

Di dalam hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah disebutkan bahwasanya:
◆ Catatan dosa-dosa akan ditaruh di kiffah dan bithaqah (kartu) yang bertuliskan “Laa ilaaha illallaah” akan ditaruh di kiffah yang lain.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَلَوْ وُزِنَ فِيْهِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ لَوَسِعَتْ، فَتَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ: يَا رَبِّ! لِمَنْ يَزِنُ هَذَا؟ فَيَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: لِمَنْ شِئْتُ مِنْ خَلْقِيْ
“Akan diletakkan mizan pada hari kiamat, seandainya langit dan bumi ditimbang di dalamnya niscaya akan cukup.
Bertanyalah para malaikat: ‘Wahai Rabb, untuk siapakah timbangan ini?’
Maka Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman: ‘Untuk orang yang Aku kehendaki dari para makhluk-Ku’.”
(Hadits shahih diriwayatkan oleh Al Hakim di dalam Al Mustadrak)

Para ulama berbeda pendapat tentang berapakah jumlah mizan di hari kiamat; apakah 1 timbangan atau banyak.
⇒ Karena masing-masing manusia memiliki timbangan atau masing-masing amalan ada timbangan khusus.
Allahu a’lam.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 49 Penegakan Qishash (Hukuman) Bagi Orang-Orang yang Zhalim

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 49 Penegakan Qishash (Hukuman) Bagi Orang-Orang yang Zhalim

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-49 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Penegakan Qishash (Hukuman) Bagi Orang-orang Yang Zhalim”.

Termasuk keadilan Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah menegakkan qishash diantara makhluk di hari kiamat.

◆ Tidak ada makhluk yang dizhalimi di dunia oleh yang lain kecuali akan Allah kembalikan haknya di hari kiamat, bahkan diantara hewan.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنْ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ
“Sungguh akan diberikan hak-hak ini kepada pemiliknya di hari kiamat, sampai akan diqishash seekor kambing yang bertanduk karena kezhaliman yang dia lakukan terhadap kambing yang tidak bertanduk.” (HR Muslim)

◆ Akan didatangkan orang yang zhalim dan yang dizhalimi, sekecil apapun kezhaliman tersebut, baik berupa;
⑴ Kezhaliman harta
Seperti: pencurian, perampokan, penipuan, hutang.
⑵ Kezhaliman kehormatan
Seperti: umpatan, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), tuduhan palsu.
⑶ Kezhaliman fisik
Seperti: pemukulan, pembunuhan dan lain-lain.

◆ Penegakan keadilan saat itu adalah dengan hasanah dan sayyiah.
⇒Orang yang zhalim akan diambil hasanahnya dan diberikan kepada orang yang dizhalimi.
⇒Apabila orang yang zhalim tersebut tidak memiliki hasanah, maka sayyiah orang yang dizhalimi akan diberikan kepada orang yang zhalim tersebut.

◆ Orang yang bangkrut di hari tersebut adalah orang-orang yang terlalu banyak kezhalimannya di dunia.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat.
Dia datang pada hari tersebut dan dahulu di dunia dia telah mencela Si Fulan, menuduh Si Fulan berzina, memakan harta Si Fulan, menumpahkan darah Si Fulan, dan memukul Si Fulan.
Maka hasanah (pahala kebaikan orang tersebut) akan diberikan kepada Si Fulan lalu Si Fulan.
Sehingga apabila habis hasanah orang tersebut sebelum dia melunasi hak orang lain, maka akan diambil dosa-dosa orang yang pernah dia zhalimi tersebut dan dipikulkan kepadanya.
Kemudian akhirnya dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Muslim)

Oleh karena itu seorang Muslim di dunia apabila berbuat zhalim maka hendaknya:
•✓Bersegera untuk minta maaf.
•✓Dan mengembalikan hak orang yang pernah dia zhalimi.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Barang siapa yang memiliki kezhaliman kepada orang lain baik berupa kehormatan atau sesuatu yang lain, maka hendaklah dia meminta dihalalkan darinya pada hari ini, sebelum datang hari yang di situ tidak ada lagi dinar maupun dirham.” (HR Bukhari)

◆ Orang yang dizhalimi di dunia boleh membalas dengan balasan yang setimpal.
⇒Akan tetapi tidak boleh dia membalas dengan berlebihan, karena dengan demikian justru dia menjadi orang yang zhalim yang akan diambil kebaikannya.
⇒Dan apabila dia memaafkan maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan pahala yang besar.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَجَزَٲٓؤُاْ سَيِّئَةٍ۬ سَيِّئَةٌ۬ مِّثۡلُهَا‌ۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ
“Dan balasan sebuah kejelekan adalah kejelekan yang setimpal. Dan barang siapa yang memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya atas Allah Subhānahu wa Ta’āla. Sesungguhnya Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak mencintai orang-orang yang zhalim.” (QS Asy Syura: 40)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di Kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 48 Pemberian Kitab

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 48 Pemberian Kitab

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-48 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Pemberian Kitab”.

Setelah Allah Subhānahu wa Ta’āla menghisab seorang hamba maka hamba tersebut akan diberi kitab.

Orang yang beriman dengan hisab dan hari perhitungan dan dia beramal, maka dia akan menerima kitab yang berisi hasanah dengan tangan kanannya.
Dan kelak akan kembali kepada keluarganya di dalam surga dalam keadaan yang sangat bahagia.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨) وَيَنقَلِبُ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورً۬ا (٩)
“Maka adapun orang yang diberi kitab dengan tangan kanannya, maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah dan akan kembali kepada keluarganya dalam keadaan bahagia.” (QS Al Insyiqaq: 7-9)

Allah Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman :
فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ فَيَقُولُ هَآؤُمُ ٱقۡرَءُواْ كِتَـٰبِيَهۡ (١٩) إِنِّى ظَنَنتُ أَنِّى مُلَـٰقٍ حِسَابِيَهۡ (٢٠) فَهُوَ فِى عِيشَةٍ۬ رَّاضِيَةٍ۬ (٢١) فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ۬ (٢٢) قُطُوفُهَا دَانِيَةٌ۬ (٢٣) كُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ هَنِيٓـَٔۢا بِمَآ أَسۡلَفۡتُمۡ فِى ٱلۡأَيَّامِ ٱلۡخَالِيَةِ (٢٤)
“Maka adapun orang yang diberi kitab dengan tangan kanannya, dia akan berkata kepada orang lain:
‘Silahkan bacalah kitabku ini, sesungguhnya aku dahulu di dunia yakin bahwa aku akan menemui hisab.’
Maka dia akan berada di dalam kehidupan yang diridhai di surga yang tinggi yang buah-buahannya rendah (maksudnya mudah dipetik).
Dikatakan kepada mereka: ‘Makanlah kalian dan minumlah dengan nikmat karena amal-amal yang kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu’.” (QS Al Haqqah: 19-24)

Adapun orang kafir dan munafik maka dia akan menerima kitab dengan tangan kiri dari arah belakang.
⇒ Pertanda bahwasanya mereka akan masuk ke dalam neraka.
Dia pun berteriak dengan kecelakaan.
Tidak bermanfaat bagi mereka harta mereka yang berlimpah dan jabatan mereka yang tinggi di dunia.
Mereka menyesal dan berangan-angan seandainya tidak diberi kitab dan berangan-angan seandainya tidak dibangkitkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ وَرَآءَ ظَهۡرِهِۦ (١٠) فَسَوۡفَ يَدۡعُواْ ثُبُورً۬ا (١١) وَيَصۡلَىٰ سَعِيرًا (١٢) إِنَّهُ ۥ كَانَ فِىٓ أَهۡلِهِۦ مَسۡرُورًا (١٣) إِنَّهُ ۥ ظَنَّ أَن لَّن يَحُورَ (١٤)
“Dan adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakangnya, maka dia akan berteriak dengan kecelakaan dan akan masuk kelak di dalam neraka.
Sesungguhnya dahulu dia bergembira ria bersama keluarganya.
Dan sesungguhnya dahulu dia menyangka bahwa dia tidak akan kembali kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.” (QS Al Insyiqaq: 10-14)

Allah Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman :
وَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى لَمۡ أُوتَ كِتَـٰبِيَهۡ (٢٥) وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِيَهۡ (٢٦) يَـٰلَيۡتَہَا كَانَتِ ٱلۡقَاضِيَةَ (٢٧) مَآ أَغۡنَىٰ عَنِّى مَالِيَهۡۜ (٢٨) هَلَكَ عَنِّى سُلۡطَـٰنِيَهۡ (٢٩) خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ ٱلۡجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِى سِلۡسِلَةٍ۬ ذَرۡعُهَا سَبۡعُونَ ذِرَاعً۬ا فَٱسۡلُكُوهُ (٣٢)
“Adapun orang-orang yang diberi kitab dari sebelah kiri, maka dia akan berkata:
‘Seandainya aku tidak diberi kitabku ini.
Dan seandainya aku tidak mengetahui hisabku.
Seandainya kematian yang menyudahi segalanya.
Hartaku tidak memberi manfaat kepadaku, telah hilang kekuasaanku.’
Maka Allah berkata: ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.
Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
Kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta’.” (QS Al Haqqah: 25-32)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

AAbdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 47 | Orang Yang Pertama Dihisab, Amalan Yang Pertama Dihisab, dan Hal Yang Pertama Dihisab

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 47 | Orang Yang Pertama Dihisab, Amalan Yang Pertama
Dihisab, dan Hal Yang Pertama Dihisab

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-47 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Orang Yang Pertama Dihisab, Amalan Yang Pertama Dihisab Dan Hal Yang Pertama Dihisab”.

Orang yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat ada 3 orang:

⑴ Orang yang Berjihad karena Riya’
Dia akan didatangkan dan akan diperlihatkan kenikmatan yang telah Allah berikan kepadanya, maka dia pun mengenalnya.
Kemudian ditanya oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla: “Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?”
Dia berkata: “Aku gunakan untuk berperang di jalanmu sampai aku mati syahid.”
Allah berkata kepadanya: “Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang supaya dikatakan sebagai seorang pemberani dan manusia sudah mengatakan engkau adalah pemberani.”
Kemudian didatangkan,

⑵ Orang yang Mempelajari Ilmu dan Mengajarkannya dan Juga Membaca Al Quran Akan Tetapi Melakukan Itu Semua karena Riya’
Kemudian diperlihatkan kenikmatan yang Allah berikan kepadanya maka dia pun mengenalnya.
Kemudian Allah Subhānahu wa Ta’āla bertanya: “Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?”
Dia berkata: “Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca Al Quran karena-Mu.”

Allah berkata: “Kamu dusta, kamu mempelajari ilmu, mengajarkannya supaya dikatakan alim dan membaca Al Quran supaya dikatakan Qari’ dan manusia sudah mengatakan demikian.”
Kemudian didatangkan,

⑶ Orang yang Allah Luaskan Hartanya dan Telah Diberikan Berbagai Macam Harta Benda
Maka Allah memperlihatkan kenikmatan yang telah Allah berikan kepadanya, maka dia pun mengenalnya.
Kemudian Allah bertanya: “Apa yang kamu lakukan terhadap kenikmatan ini?”
Ia pun menjawab: “Tidaklah aku tinggalkan satu jalan yang Engkau cinta. Aku berinfaq di dalamnya, kecuali aku infaq di dalamnya.”
Allah berkata: “Kamu dusta, akan tetapi engkau melakukannya supaya dikatakan dermawan. Dan sungguh manusia telah mengatakan demikian.”
(Hadits shahih riwayat Muslim)

Amal ibadah yang pertama kali akan dihisab adalah shalat lima waktu.
Apakah seorang hamba menyempurnakan shalatnya atau tidak;
• Jika sempurna, maka akan ditulis sempurna.
• Dan apabila kurang, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan memerintahkan malaikat untuk melihat shalat-shalat sunnahnya.
• Apabila dia memiliki shalat-shalat sunnah, maka akan digunakan untuk menambal kekurangan yang dilakukan ketika shalat fardhu.
(Hadits Shahih riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Adapun hal yang pertama yang berkaitan dengan hak antar manusia yang akan dihisab adalah tentang darah.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسُ يَوْمَ القِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ
“Hal yang pertama kali akan dihisab yang berkaitan dengan hak antar manusia pada hari kiamat adalah tentang darah.” (HR Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 46 Keadaan Manusia Ketika Hisab

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 46 Keadaan Manusia Ketika Hisab

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-46 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Manusia Ketika Hisab”.

Ada diantara manusia yang kelak akan sulit hisabnya. Ada yang mudah. Dan ada diantara mereka yang sama sekali tidak dihisab.

Orang-orang kafir, menurut pendapat yang lebih kuat, meskipun amalan mereka adalah amalan yang sia-sia, namun mereka akan dihisab dan ditanya Allah Subhānahu wa Ta’āla,
⇒ Sebagai celaan bagi mereka.
⇒ Dan untuk menunjukkan keadilan Allah serta menegakkan hujjah atas mereka.

◆ Hisab orang-orang kafir akan sangat teliti.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
وَمَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكْ
“Barangsiapa yang diperiksa dengan teliti hisabnya maka dia akan binasa.” (HR Bukhāri dan Muslim, shahīh)

◆ Adapun orang-orang yang beriman maka mereka akan dihisab dengan hisab yang mudah.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
فَأَمَّا مَنۡ أُوتِىَ كِتَـٰبَهُ ۥ بِيَمِينِهِۦ (٧) فَسَوۡفَ يُحَاسَبُ حِسَابً۬ا يَسِيرً۬ا (٨)
“Adapun orang yang diberi kitab dengan tangan kanannya maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah.” (QS Al Insyiqaq: 7-8)
⇒ Dan yang dimaksud dengan “hisab yang mudah” disebutkan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam sebuah hadits yang artinya:
“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mu’min kemudian menutupinya, kemudian Allah berkata kepadanya:
‘Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?’
Maka orang mukmin tersebut akan berkata: ‘Iya, wahai Rabb-ku.’
Sehingga ketika Allah Subhānahu wa Ta’āla sudah membuatnya mengakui dan hamba tersebut melihat bahwasanya dirinya akan binasa (yaitu karena dosa-dosa tersebut) maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan berkata:
‘Aku telah menutupi dosa-dosamu ini di dunia dan Aku mengampuninya untukmu hari ini.’
Maka diapun diberi kitab kebaikan-kebaikannya.” (HR Bukhari dan Muslim, shahih)

◆ Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada 70.000 orang dari umatnya yang kelak tidak dihisab sama sekali.
Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menyebutkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang:
✓Tidak pernah minta diobati dengan besi panas.
✓Tidak minta diruqyah orang lain
✓Tidak ber-tathoyyur (yaitu menganggap sial dengan melihat burung atau yang semisalnya)
✓Dan mereka hanya bertawakal kepada Allah

Diantara mereka adalah seorang sahabat ‘Ukasyah Ibnu Mihshan. (HR Bukhari dan Muslim, shahih)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 45 Pertanyaan Ketika Hisab (Bagian 2)

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 45 Pertanyaan Ketika Hisab (Bagian 2)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-45 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Pertanyaan Ketika Hisab (Bagian 2)”.

Diantara hal yang akan ditanyakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika hisab adalah pendengaran, penglihatan dan hati kita.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌ‌ۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولاً۬
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak punya ilmunya. Sesungguhnya setiap manusia kelak akan ditanya tentang pendengaran, penglihatan dan hatinya.” (QS Al Isra: 36)

Dengan demikian hendaklah seorang Muslim menjaga pendengaran, penglihatan dan hatinya dari apa yang Allah haramkan.

Diantara yang akan ditanyakan adalah “perjanjian”.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولاً۬
“Dan sempurnakanlah perjanjian karena sesungguhnya perjanjian akan ditanyakan.” (QS Al Isra: 34)

Dan perjanjian di sini mencakup perjanjian seorang hamba kepada Allah maupun kepada makhluk.
Seorang Muslim dituntut untuk menyempurnakan janjinya.

Diantara hal yang akan ditanyakan adalah tentang “amanat” yang telah Allah berikan kepada kita.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Setiap kalian adalah penjaga amanat dan setiap kalian akan ditanya tentang amanat tersebut.
Seorang imam atau pemimpin negara adalah penjaga amanat dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut.
Seorang bapak adalah penjaga amanat di dalam keluarganya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut.
Seorang ibu adalah penjaga amanat di dalam rumah suaminya dan dia akan ditanya tentang apa yang dia jaga.
Dan seorang pembantu adalah penjaga amanat harta majikannya dan dia akan ditanya tentang amanat tersebut.
(HR Bukhari dan Muslim, shahih)

Seorang pemimpin mendapat amanat dari Allah untuk menegakkan hukum-hukum Allah atas rakyatnya dan berbuat adil.

Seorang bapak mendapat amanat untuk memimpin keluarga dan membawa mereka kepada kebaikan serta memberikan hak-hak mereka.

Seorang ibu mendapat amanat untuk mengurus rumah tangga, mengurus anak, menasihati suami, dan lain-lain.

Seorang pembantu mendapat amanat untuk menjaga harta majikannya dan melaksanakan pekerjaan sebagai seorang pembantu.

Masing-masing kita hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya apapun peran kita sesuai dengan yang Allah perintahkan.

Baik kita sebagai seorang pemimpin maupun yang dipimpin,
Baik sebagai juru dakwah maupun yang didakwahi,
Baik sebagai seorang suami maupun seorang istri,
Baik sebagai seorang ayah atau ibu maupun anak,
Baik sebagai seorang guru maupun murid dan lain-lain.

Masing-masing hendaknya melaksanakan amanat dan kewajiban sebaik-baiknya.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 44 Pertanyaan Ketika Hisab (Bagian 1)

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 44 Pertanyaan Ketika Hisab (Bagian 1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-44 dari Silsilah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Pertanyaan Ketika Hisab (Bagian 1)”.

Ketika hisab, Allah Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara dengan para hamba dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah.

Allah akan bertanya tentang apa yang sudah mereka lakukan di dunia.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Tidaklah diantara kalian kecuali Rabb-nya akan berbicara kepadanya, tidak ada antara dia dengan Allah penerjemah. Dia akan melihat sebelah kanannya maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan melihat sebelah kirinya maka dia tidak melihat kecuali amalan yang sudah dia lakukan. Dan akan melihat depannya maka dia tidak melihat kecuali neraka berada di depannya. Maka jagalah diri kalian dari neraka meskipun dengan separuh buah kurma. (HR Bukhari dan Muslim, shahih)

Adapun hadits yang berisi bahwasanya ada 3 golongan yang Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka pada hari kiamat, (yaitu):

⑴ Orang yang mengungkit-ungkit pemberian.
⑵ Orang yang menjual barang dengan sumpah palsu.
⑶ Orang yang musybil yaitu memanjangkan pakaian di bawah mata kaki (yaitu bagi laki-laki). (HR Muslim, shahih)

⇒ Maka yang dimaksud hadits ini seperti yang dikatakan oleh sebagian ulama bahwasanya Allah Subhānahu wa Ta’āla tidak akan berbicara dengan mereka dalam keadaan ridha, tetapi Allah Subhānahu wa Ta’āla akan berbicara kepada mereka dalam keadaan marah.

Diantara hal yang ditanyakan di hari kiamat adalah:
● Pertama, Tentang Tauhid Kita kepada Allah Subhānahu Wa Ta’āla
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ
“Maka sungguh Kami akan tanya umat yang telah diutus kepada mereka (para Rasul) dan sungguh kami akan tanya para Rasul.” (QS Al A’raf: 6)

Kita akan ditanya bagaimana kita menjawab ajakan Rasul dan ajakan Rasul yang paling besar adalah Tauhid.

Di antara hal yang akan ditanyakan pada hari kiamat adalah,

● Ke Dua, Kenikmatan yang Allah Berikan kepada Kita di Dunia
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
ثُمَّ لَتُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَٮِٕذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ
“Kemudian sungguh-sungguh kalian akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS At Takatsur: 8)

⇒ Diantara kenikmatan tersebut adalah kenikmatan makanan dan minuman, bagaimana pun sederhananya di pandangan manusia.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Sesungguhnya pertanyaan pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba pada hari kiamat tentang kenikmatan adalah akan dikatakan kepadanya, “Bukankah kami telah menyehatkan badanmu dan memberimu air yang dingin?” (HR Tirmidzi, shahih)

Di dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Tidak akan bergerak dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang:
⑴ Umurnya untuk apa dia gunakan.
⑵ Dan ditanya tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan.
⑶ Dan akan ditanya tentang hartanya darimana dia dapatkan dan dalam perkara apa dia gunakan.
⑷ Dan akan ditanya tentang anggota badannya untuk apa dia gunakan. (HR Tirmidzi, shahih)

Orang yang mensyukuri nikmat tersebut dialah yang akan selamat; mensyukuri dengan hati, lisan, maupun perbuatan.
• Hatinya mengakui kenikmatan tersebut bahwasanya itu adalah dari Allah.
• Lisannya bersyukur dan memuji Allah Subhānahu wa Ta’āla
• Dan dia mempergunakan kenikmatan tersebut di dalam hal yang diperbolehkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI)

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 43 Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 3

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 43 Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan)
dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 3

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-43 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 3”.

Diantara cara untuk memperbanyak Al Hasanah dan mengurangi As Sayyiah adalah,

■ Ke Delapan, Bersabar atas musibah dan ujian.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نفسه وولده وماله حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيْئَةٌ
“Senantiasa ujian menimpa seorang Mu’min dan Mu’minah di dalam dirinya, anaknya, dan juga hartanya sampai dia bertemu Allah Subhānahu wa Ta’āla dan dia tidak memiliki dosa.” (HR Tirmidzi)

Di dalam hadits yang lain, Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan yang artinya:
“Ketika orang-orang yang terkena musibah di dunia mendapatkan pahala pada hari kiamat, maka ahlul ‘afiyah (orang-orang yang tidak banyak terkena musibah) akan berkeinginan seandainya kulit-kulit mereka digunting di dunia. (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi)

Yang demikian karena mereka melihat besarnya pahala orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٍ۬
“Sesungguhnya akan disempurnakan pahala orang-orang yang bersabar tanpa batas.” (QS Az-Zumar: 10)

■ Ke Sembilan, Beramal shalih secara umum berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
⇒ Seperti membaca Al Qur’an, berpuasa, dan lain-lain.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah yaitu Al Qur’an, maka setiap huruf dia akan mendapatkan satu hasanah. Dan satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah. (Hadits Shahih riwayat Tirmidzi).

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwasanya,
“Setiap amalan anak Adam, satu hasanah akan dilipatgandakan menjadi sepuluh hasanah sampai tujuh ratus. Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa adalah untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla dan Dia-lah yang akan membalasnya. (Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim).

Mintalah senantiasa kepada Allah pertolongan di dalam beramal.
Beramallah sebaik mungkin dan mohonlah kepada Allah supaya diterima.

Dan ketahuilah bahwasanya amal kita hanyalah sebab dan bukan pengganti kenikmatan surga dan keselamatan dari neraka.

Seandainya seseorang beramal semaksimal mungkin, sebaik-baiknya selama hidupnya, niscaya tidak cukup untuk membalas kenikmatan Allah di dunia, maka bagaimana dengan kenikmatan akhirat?

Rahmat atau kasih sayang dan anugerah Allah-lah yang lebih kita harapkan.

Rasulullah h shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Amalan seseorang tidaklah memasukkan dia ke dalam surga. Para sahabat berkata, “Tidak juga engkau ya Rasulullah?” Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Tidak juga saya, kecuali Allah Subhānahu wa Ta’āla melimpahkan kepadaku anugerah dan rahmatNya.” (Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 42 Memperbanyak Al Hashanah (Kebaikan) dan Mengurangi As Sayyiah (Dosa) Bagian Ke-2

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 42 Memperbanyak Al Hashanah (Kebaikan)
dan Mengurangi As Sayyiah (Dosa) Bagian Ke-2

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-42 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) Dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 2”.

Diantara cara memperbanyak Al Hasanah dan menghilangkan As Sayyiah (dosa):

■ Ke Tiga
✓ Memanfaatkan kenikmatan Allah yang telah diberikan kepada kita semaksimal mungkin.
Seperti kenikmatan ilmu agama, kesehatan, waktu luang, harta benda, anggota badan yang lengkap dan sehat, jabatan, kenikmatan teknologi, kecerdasan, kenikmatan berbicara, dan lain-lain.

✓ Menggunakan kenikmatan tersebut di jalan Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan niat yang benar yaitu untuk mencari pahala Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya :
“Dua nikmat yang banyak manusia yang rugi di dalamnya, kesehatan dan waktu luang.” (Hadits shahih riwayat Bukhari).

Di dalam hadits yang lain Beliau Shalallahu ‘alayhi wassallam mengatakan yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang kaya, mereka adalah orang-orang yang sedikit hasanahnya pada hari kiamat kecuali orang yang Allah berikan kekayaan kemudian bershadaqah kepada yang ada di kanannya, kirinya, depan, dan belakangnya dan beramal dengan kekayaan tersebut, amalan yang baik (Hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim).

■ Ke Empat
Memperbaiki amalan supaya diterima di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Karena amalan bisa menjadi hasanah bagi seseorang bila diterima di sisi Allah.

Dan syarat diterimanya amalan ada 2 yaitu:
⑴ Ikhlash
⑵ Sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

■ Ke Lima
Bertaubat dari dosa yang diiringi dengan iman dan amal shalih.
Karena barangsiapa yang melakukan yang demikian itu maka dosanya akan diganti dengan hasanah.

Allah Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan bahwasanya,
• Orang yang menyekutukan Allah Subhānahu wa Ta’āla.
• Membunuh jiwa tanpa haq.
• Berzina
Maka mereka akan mendapatkan adzab yang pedih di hari kiamat, kecuali apabila dia:
• Bertaubat
• Beriman
• Mengerjakan amal shalih
Maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan mengganti dosa-dosa mereka menjadi sebuah kebaikan. (QS Al Furqan: 68-70)

■ Ke Enam
Memperbanyak istighfar.
⇒ Setiap:
• Melakukan dosa, atau
• Kurang bersyukur atas nikmat, atau
• Kurang dalam melakukan kewajiban atau,
• Lalai dari mengingat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًاكَثِيْرًا
“Tuba bagi orang yang menemukan di dalam kitabnya istighfar yang banyak.”
(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah)

⇒ Tuba:
• Ada yang mengatakan maknanya adalah surga.
• Ada yang mengatakan maknanya adalah nama pohon di surga.

■ Ke Tujuh
Tidak melakukan amalan yang mengurangi pahalanya.
Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Aku mengetahui ada sebagian umatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa hasanah sebesar gunung-gunung Tihamah. Maka Allah Subhānahu wa Ta’āla menjadikan hasanah tersebut seperti debu yang beterbangan. Maka salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam tentang sifat mereka.
Maka Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya mereka adalah saudara-saudara kita, shalat malam sebagaimana kita shalat malam, akan tetapi mereka apabila dalam keadaan sendiri dengan sesuatu yang diharamkan, mereka pun melanggarnya. (Hadits shahih riwayat Ibnu Majah)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

‘Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 41 Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 1

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 41 Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan)
dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 1

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-41 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Memperbanyak Al Hasanah (Kebaikan) dan Menghilangkan As Sayyiah (Dosa) Bagian 1”.

Seorang yang beriman kepada hari akhir dan beriman bahwasanya kelak akan dihisab, maka hendaklah dia:
⑴ Memohon rahmat dari Allah Subhānahu wa Ta’āla.
⑵ Kemudian mengambil sebab supaya memiliki Al Hasanah sebanyak mungkin dan menghilangkan dosa sebisa mungkin.

Diantara caranya:
■ Pertama, Menjaga tauhid, yang merupakan:
• Hasanah (kebaikan) yang paling besar.
• Pondasi bagi hasanah yang lain.
• Sebab diampuninya dosa seseorang.

■ Ke Dua, Mencari amalan yang paling afdhal.
Yang apabila dilakukan maka dia akan mendapatkan hasanah yang banyak.
Yang demikian karena kita sangat butuh dengan hasanah yang banyak, sementara waktu untuk mendapatkannya adalah sangat terbatas.

Amalan yang paling afdhal setelah Rukun Islam dan kewajiban-kewajiban agama yang lain, ada 3 amalan:
⑴ Menuntut ilmu agama.
⑵ Jihad fi sabilillah.
⑶ Dzikrullah yang dilakukan dengan khusyu’ di sebagian besar waktunya.

Amalan yang wajib lebih afdhal dan lebih besar pahalanya daripada amalan yang sunnah.
Amalan yang wajib ‘ain (yaitu yang wajib atas semuanya) lebih afdhal dari pada amalan yang wajib kifayah (yang apabila dilakukan oleh sebagian maka gugur atas yang lain).
Kewajiban yang berkaitan dengan hak Allah lebih afdhal dari pada kewajiban yang berkaitan dengan hak makhluk.

◆ Amalan yang lebih afdhal adalah amalan yang dilakukan dengan:
✓ Lebih ikhlash.
✓ Lebih mengikuti sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Amalan sedikit yang mudah dikerjakan tanpa memberatkan diri dan dilakukan secara terus-menerus, lebih afdhal dari pada amalan yang banyak tapi terputus.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah yang paling dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim).

Terkadang sebuah amalan afdhal bagi sebagian, namun belum tentu afdhal bagi yang lain.

Amalan yang manfaatnya sampai kepada orang lain lebih afdhal daripada amalan yang manfaatnya hanya untuk dirinya sendiri, contohnya seperti shadaqah dan dakwah fi sabilillah.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda yang artinya;
“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala orang yang mengikutinya, tidak dikurangi dari pahala mereka sedikitpun.” (Hadits shahih riwayat Muslim)

Amalan yang dikerjakan di waktu yang mulia lebih afdhal, seperti amalan yang dikerjakan di bulan Ramadhan dan amalan yang dikerjakan pada sepuluh hari yang pertama di bulan Dzulhijjah.

Sebagian amalan lebih afdhal dikerjakan di tempat mulia tertentu, seperti shalat di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa.

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al-Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 40 Keadilan Allah Subhānahu Wa Ta’ala Ketika Hisab (Bagian 2)

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 40 Keadilan Allah Subhānahu Wa Ta’ala Ketika Hisab (Bagian 2)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-40 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadilan Allah Subhānahu wa Ta’āla Ketika Hisab (Bagian 2)”.

Diantara keadilan Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika hisab:

■ Ke Empat
Bahwasanya kebaikan dan kejelekan sekecil apapun yang disembunyikan di dalam hati maupun dinampakkan, akan didatangkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Tidak ada manusia yang dizhalimi karena kebaikan yang terlupakan atau karena kejelekan yang tidak dia lakukan.

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرً۬ا يَرَهُ ۥ (٧) وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬ شَرًّ۬ا يَرَهُ ۥ (٨)
“Maka barangsiapa yang mengamalkan kebaikan seberat atom sekalipun dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengamalkan sebuah kejelekan seberat atom sekalipun akan melihatnya.” (QS Al Zalzalah: 7-8)

■ Ke Lima
Bahwasanya seseorang tidak akan memikul dosa orang lain.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ۬ وِزۡرَ أُخۡرَىٰ‌ۚ
“Dan sebuah jiwa tidak akan menanggung dosa jiwa yang lain.” (QS Al An’am: 164)
⇒ Kecuali, apabila seseorang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya dalam kesesatan tersebut.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثَمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa orang yang mengikutinya, tidak berkurang dari dosa mereka sedikitpun.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)

■ Ke Enam
Bahwasanya masing-masing kita akan dipersilahkan melihat sendiri isi kitabnya.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
وَنُخۡرِجُ لَهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ ڪِتَـٰبً۬ا يَلۡقَٮٰهُ مَنشُورًا (١٣) ٱقۡرَأۡ كِتَـٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبً۬ا (١٤)
“Dan kami akan keluarkan baginya pada hari kiamat, sebuah kitab dalam keadaan terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu pada hari ini yang menghisab dirimu sendiri.” (QS Al Isra: 13-14)

■ Ke Tujuh
Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan para saksi supaya tidak ada alasan bagi manusia.

◆ Didatangkan para rasul yang bersaksi atas umatnya bahwasanya mereka sudah menyampaikan.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
فَكَيۡفَ إِذَا جِئۡنَا مِن كُلِّ أُمَّةِۭ بِشَهِيدٍ۬ وَجِئۡنَا بِكَ عَلَىٰ هَـٰٓؤُلَآءِ شَہِيدً۬ا
“Maka bagaimana jika kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan kami akan datangkan dirimu sebagai saksi atas mereka.” (QS An Nisa: 41)

◆ Malaikat akan menjadi saksi.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٍ۬ مَّعَهَا سَآٮِٕقٌ۬ وَشَہِيدٌ۬
“Dan akan datang setiap jiwa bersamanya malaikat yang menuntun dan malaikat yang menjadi saksi.” (QS Qaf: 21)

◆ Bahkan anggota badan manusia akan menjadi saksi di hari kiamat.
Allah berfirman :
ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٲهِهِمۡ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيہِمۡ وَتَشۡہَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ
“Pada hari ini akan kami tutup mulut-mulut mereka dan tangan-tangan mereka akan berbicara dengan kami dan kaki-kaki mereka akan menjadi saksi atas apa yang sudah mereka lakukan.” (QS Yasin: 65)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 39 Keadilan Allah Subhānahu Wa Ta’ala Ketika Hisab (Bagian 1)

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 39 Keadilan Allah Subhānahu Wa Ta’ala Ketika Hisab (Bagian 1)

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-39 dari Silsilah Beriman Kepada Hari akhir adalah tentang “Keadilan Allah Subhānahu wa Ta’āla Ketika Hisab (Bagian 1)”.

Yang dimaksud dengan hisab adalah perhitungan Allah Subhānahu wa Ta’āla terhadap amalan para hamba di dunia.

◆ Hisab Allah adalah hisab yang sangat sempurna keadilannya; tidak ada kezhaliman sedikitpun.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬‌ۖ
“Sesungguhnya Allah tidak akan menzhalimi meskipun sebesar dzarrah sekalipun.” (QS An Nisa: 40)
⇒ Dan yang dimaksud dengan dzarrah adalah bagian yang paling kecil dari sebuah benda (atom).

◆ Bahkan rahmat dan kelebihan karunia serta anugerah yang Allah berikan kepada para hamba adalah sangat banyak.
Seandainya Allah Subhānahu wa Ta’āla mengadzab semua makhluk, maka bukanlah hal itu sebuah kezhaliman.
Dan seandainya Allah merahmati, niscaya rahmat Allah Subhānahu wa Ta’āla lebih baik dari pada amalan mereka.
(Hadits shahih, riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Yang demikian karena Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah:
✓Pencipta mereka.
✓Raja yang memiliki kerajaan.

• Semua mahluk adalah milik-Nya dan dalam kerajaan-Nya.
• Dan Dia melakukan apa saja yang Dia kehendaki di dalam kerajaan-Nya.

Di antara yang menunjukkan keadilan Allah Subhānahu wa Ta’āla:

■ Pertama
Allah Subhānahu wa Ta’āla telah memfitrahkan di dalam hati semua manusia bahwa Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah Rabb mereka dan mereka mengakui bahkan sebelum mereka dilahirkan. (Lihat Surat Al-A’rāf: 172)

■ Ke Dua
Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus para Rasul (para utusan) kepada manusia yang telah mengingatkan mereka dengan fitrah ini dan mengajak mereka untuk beriman dengan hari akhir.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
رُّسُلاً۬ مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِ‌ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمً۬ا
“Para Rasul yang datang untuk memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan supaya tidak ada hujjah bagi manusia atas Allah Subhānahu wa Ta’āla setelah kedatangan para Rasul. Dan sesungguhnya Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.” (QS An Nisa: 165)

■ Ke Tiga
Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menugaskan para malaikat untuk mencatat semua amalan manusia.
Allah Subhānahu wa Ta’āla
berfirman:
وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَـٰفِظِينَ (١٠) كِرَامً۬ا كَـٰتِبِينَ (١١)يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ (١٢)
“Dan sesungguhnya pada diri kalian ada malaikat-malaikat yang menjaga atau mengawasi yang mereka mulia, dan menulis, mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS Al Infithar: 10-12)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di Kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 38 Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah Subhānahu Wa Ta’āla

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 38 Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah Subhānahu Wa Ta’āla

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

🔰Halaqah yang ke-38 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Keadaan Manusia Ketika Datangnya Allah Subhānahu wa Ta’āla”.

Kedatangan Allah di hari tersebut adalah kejadian yang sangat besar bagi semua makhluk.

Allah yang telah:
✓Menciptakan mereka supaya beribadah kepada-Nya semata,
✓Mengutus para rasul supaya ditaati,
✓Menurunkan kitab supaya diamalkan,
✓Memberikan kenikmatan supaya digunakan dengan baik,

Akan datang untuk menanyakan itu semua dan menghitung amalan-amalan mereka.

◆ Semua manusia merasa takut atas apa yang mereka lakukan di dunia.
⇒ Orang yang kafir akan takut atas kekafirannya kepada Allah.
⇒ Orang yang beriman akan takut atas kemaksiatannya kepada Allah dan amalannya yang penuh dengan kekurangan.
⇒ Dan akan didatangkan Jahannam, yang akan semakin menambah rasa takut manusia.

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها
“Akan didatangkan Jahannam pada hari tersebut. Jahannam tersebut memiliki 70.000 tali pengikat, pada setiap tali pengikat ada 70.000 malaikat yang akan menyeretnya.” (HR Muslim)

Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman :
كَلَّآ إِذَا دُكَّتِ ٱلۡأَرۡضُ دَكًّ۬ا دَكًّ۬ا (٢١) وَجَآءَ رَبُّكَ وَٱلۡمَلَكُ صَفًّ۬ا صَفًّ۬ا (٢٢) وَجِاْىٓءَ يَوۡمَٮِٕذِۭ بِجَهَنَّمَ‌ۚ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَذَڪَّرُ ٱلۡإِنسَـٰنُ وَأَنَّىٰ لَهُ ٱلذِّكۡرَىٰ (٢٣) يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى (٢٤)
“Sekali-kali tidak, apabila bumi digoncangkan dengan segoncang-goncangnya.
Dan datang Rabb-Mu dan malaikat dengan berbaris.
Dan didatangkan pada hari tersebut jahannam.
Pada hari tersebut manusia akan sadar dan apa manfaat kesadaran pada hari tersebut?
Dia mengatakan: ‘Seandainya aku beramal untuk kehidupanku ini’.” (QS Al Fajr: 21-24)

◆ Dan akan dipisahkan antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir.
Alahh Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman :
وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ يَتَفَرَّقُونَ
“Dan ketika datang Hari Kiamat, pada hari tersebut mereka akan saling berpisah.” (QS Ar Ruum: 14)

◆ Masing-masing umat akan duduk di atas lututnya karena rasa takut kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla pada hari tersebut.
Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ۬ جَاثِيَةً۬‌ۚ كُلُّ أُمَّةٍ۬ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَـٰبِہَا ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
“Dan kamu akan melihat setiap umat akan duduk di atas lututnya dengan gelisah.
Setiap umat akan dipanggil kepada kitab amalannya. Dikatakan kepada mereka: ‘Hari ini akan dibalas amalan kalian’.” (QS Al Jatsiyah: 28)

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يَنْزِلُ إِلَى الْعِبَادِ لِيَقْضِيَ بَيْنَهُمْ وَكُلُّ أُمَّةٍ جَاثِيَةٌ
“Sesungguhnya Allāh Tabāraka Wa Ta’āla apabila datang hari kiamat, akan turun kepada hamba-hamba untuk memutuskan di antara mereka. Dan masing-masing umat akan duduk di atas lututnya dengan gelisah.” (Hadits shahih riwayat Tirmidzi)

Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai pada bertemu pada halaqah selanjutnya.
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts:

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 37 Datangnya Allah Subhānahu Wa Ta’āla Untuk Memberi Keputusan

HSI Silsilah 5 Beriman Kepada Hari Akhir
Halaqah 37 Datangnya Allah Subhānahu Wa Ta’āla Untuk Memberi Keputusan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

🔰Halaqah yang ke-37 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Datangnya Allah Subhānahu wa Ta’āla Untuk Memberi Keputusan”.

Setelah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam diizinkan untuk melakukan syafa’at dan diterima syafa’atnya oleh Allah, maka Allah Subhānahu wa Ta’āla akan datang untuk memberi keputusan bagi penduduk mahsyar dan menghisab amalan-amalan mereka.

Allah datang dengan cara yang sesuai dengan keagungan Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak mengetahui bagaimananya kecuali Allah Subhānahu wa Ta’āla.

Kewajiban kita adalah beriman bahwasanya Allah akan datang.
• Tidak boleh kita ingkari.
• Tidak boleh kita serupakan datangnya Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan datangnya makhluk.
• Dan tidak boleh kita takwil dengan mengatakan bahwasanya yang datang adalah perintah-Nya atau urusan-Nya atau adzabNya.
◆ Langit akan pecah dengan awan putih, Allahu a’lam dengan hakikatnya.

◆ Akan diturunkan para malaikat dan mereka akan datang dengan bershaf-shaf.
Alahh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:
ﻭَﺟَﺎﺀَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻭَﺍﻟْﻤَﻠَﻚُ ﺻَﻔًّﺎ ﺻَﻔًّﺎ
“Dan datanglah Rabbmu dan para malaikat bershaf-shaf.” (QS Al Fajr: 22)
Allah Subhānahu wa Ta’āla juga berfirman:
ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺗَﺸَﻘَّﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀ ﺑِﺎﻟْﻐَﻤَﺎﻡِ ﻭَﻧُﺰِّﻝَ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﺗَﻨﺰِﻳلًا
“Dan hari dimana langit akan pecah dengan awan putih dan diturunkan para malaikat.” (QS Al Furqan: 25)
◆ Ketika Allah datang bersinarlah bumi dengan cahaya Allah dan didatangkan para nabi dan para malaikat pencatat amal yang baik maupun yang jelek yang mereka akan dijadikan saksi.
ﻭَﺃَﺷْﺮَﻗَﺖِ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽُ ﺑِﻨُﻮﺭِ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻭَﻭُﺿِﻊَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ ﻭَﺟِﻲﺀَ ﺑِﺎﻟﻨَّﺒِﻴِّﻴﻦَ ﻭَﺍﻟﺸُّﻬَﺪَﺍﺀِ ﻭَﻗُﻀِﻲَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻫُﻢْ لَا ﻳُﻈْﻠَﻤُﻮﻥَ
“Dan bumi akan menjadi terang dengan cahaya Rabbnya dan diletakkan kitab-kitab dan didatangkan para nabi dan juga para syuhada (yaitu para malaikat) dan akan diputuskan diantara mereka dengan haq dan mereka tidak akan dizhalimi.” (QS Az Zumar: 69)
◆ Allah akan melipat langit.
ﻳَﻮْﻡَ ﻧَﻄْﻮِﻱ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀَ ﻛَﻄَﻲِّ ﺍﻟﺴِّﺠِﻞِّ ﻟِﻠْﻜُﺘُﺐِ ۚ
“Hari dimana Kami akan menggulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas.”
(QS Al Anbiya’: 104)
◆ Allah akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berkata: “Aku adalah Raja dimana raja-raja bumi?”
(Hadits shahih riwayat Bukhari & Muslim)
◆ Suara Allah didengar penduduk mahsyar yang jauh maupun yang dekat, sebagaimana dalam Shahih Bukhari.
◆ Dialah Allah Subhānahu wa Ta’āla, Māliki Yaumiddīn, yaitu Raja yang menguasai hari pembalasan.

Itulah yang bisa kita sampaikan, dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Abdullah Roy,
Di kota Al Madinah

Materi audio ini disampaikan di dalam grup WA Halaqah Silsilah Ilmiyyah (HSI) Abdullah Roy.

Related Posts: