.post_kegiatan{display: none;}
Ekspedisi Kota Tua

Ekspedisi Kota Tua

Oleh : Aqil Mahdi Rahim

Jelajah Kota Tua

Dari setelah shubuh, kami bersiap untuk keberangkatan. Sedikit bersih-bersih dan bersiap dengan mengenakan dresscode yang telah ditentukan sebelumnya. Sebelum berangkat, kami mengadakan apel untuk pengarahan, terutama kaitannya dengan daerah mana saja yang akan kami singgahi nanti di sana, di Kota Tua, Jakarta. Setelah selesai, kamipun langsung diarahkan menuju bus dan berangkat…

 

Semilir angin pagi mengiringi perjalanan kami. Waktu saat itu masih menunjukkan pukul 06.15, yang menandakan kami masih dapat menikmati asrinya suasana pagi. Canda tawa menghiasi perjalanan. Selama perjalanan, lalu lintas agak terganggu karena ramainya Kota Jakarta. Selama 3 jam penuh kami berada di perjalanan. Perjalanan yang cukup panjang untuk mengawali hari, bukan?

Depok-jakarta Selatan (Kota Tua) pun akhirnya kelar.

Setelah sampai di Kota Tua, kamipun langsung menuju ke persinggahan pertama, yaitu MBI yang merupakan kepanjangan dari Museum Bank Indonesia. Pintu besi berukirkan bunga menunggu kami di pintu depan. Kemudian, kami mengantri layaknya mengambil urutan lotre, sebelum akhirnya memasuki daerah museum. Eits, tapi itu bukan masalah. Karena sambil menunggu, kami dapat menikmati relik-relik kaca luar biasa yang melukiskan keragaman ekonomi Indonesia.Di area pameran, kami melihat banyak pemandangan indah.

Tujuan utama kami pergi ke Kota Tua adalah untuk untuk memetik pembelajaran yang bisa kami dapat sembari mendengarkan berbagai penjelasan dari kakak pembimbing yang membuat kami tentunya jauh lebih bersemangat dan tertarik untuk mencari tahu tentang apa saja yang terdapat di Museum Bank Indonesia ini. Mulai dari model kantor utama, lorong perkembangan, dan sejarah keuangan Indonesia, sampai kepada kantor hijau, ruang emas, dan masih banyak hal menarik lainnya.

Di kantor utama, kami melihat beberapa figur belanda yang menjadi perawakan suasana perkantoran kuno. Kemudian kami berpindah ke lorong yang mana di sana menjelaskan segala tetek-bengek perekonomian Indonesia. Mulai dari zaman sebelum penjajahan yang manakala masih menggunakan sistem barter rempah-rempahan, yang dilanjut dengan masuknya peradaban orang eropa ke Nusantara dan mengajarkan perdagangan, hingga dibentuknya VOC atau yang umumnya dikenal juga dengan Verenigde Oost Indische Campagnie.

Berlanjut menuju lorong berikutnya, menjelaskan tentang perkembangan bank di Indonesia. Mulai dari bank pertama yang terdapat di Indonesia, yaitu Bank Coreight De Van B yang saat itu marak memerkerjakan orang Indonesia sebagai buruh dan orang China sebagai atasan maupun pegurus yang berakhir dengan bangkrutnya perusahaan akibat korupsi orang Belanda. Kemudian dibentuklah Javasche De Bank yang mana masih berada di bawah naungan Belanda sampai sahamnya kemudian dibeli secara penuh oleh negara dan diganti menjadi Bank Indonesia (BI) yang sampai sekarang masih berdiri kokoh hingga kedepannya.

Cahaya remang-remang di lorong memberikan kesan bersejarah hingga ke ujung lorong yang mana di sana terdapat banyak sampel uang milik Indonesia. Mulai dari sebongkah logam yang kemudian berevolusi menjadi koin hingga selembaran uang kertas yang kita gunakan sekarang. Keseluruhan sampel tersebut diperoleh dengan menyertakan masa berlaku dan sejarahnya. Semua hal tersebut membuat lorong ini tidak boleh dilewatkan begitu saja apabila kawan-kawan nanti berkunjung ke Museum Bank Indonesia, karena nilai sejarahnya yang luar biasa!

Salah satu sampel uang pada masa itu

Setelah keluar dari lorong kami langsung beranjak ke kantor rapat yang sekelilingnya dilapisi lapisan cat berwarna hijau. Desain dinding dibuat sedemikian rupa dengan giok yang mana pula berwarna hijau untuk melambangkan kekayaan. Di dalam ruangan rapat hijau tersebut, kita dapat melihat beberapa figur yang tampak sedang berbincang. Figur tersebut tidak hanya melulu soal orang pribumi, namun juga terdapat beberapa figur orang asing yang secara tidak langsung melambangkan kerja sama multilateral yang terjalin di negara ini, Negara Indonesia. Ruangan tersebut benar-benar menyampaikan kesannya yang klasik nan orisinil yang akan sangat tergambar di mata para pengunjung.

Waktu terus berjalan. Tanpa perlu berlama-lama, kami langsung menuju ke pameran terakhir, yaitu ruangan emas. Emas batangan ditumpuk layaknya batu bata yang tersusun sangat rapih. Sekeliling ruangan dipenuhi warna emas berkilap yang membuat mata tak kehilangan pandang akannya. Tak terasa, kami sudah satu jam penuh berada di sana. Sayang sekali, waktu membatasi kami dan tentunya, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dengan begitu, kamipun pamit dan melanjutkan perjalanan…

Matahari sudah menaiki dengkulan hari. Kami melanjutkan ke museum berikutnya dengan menyebrangi jalanan layaknya band legendaris asal Amerika, The Beatles. Kamipun mengikuti jalan setapak yang tertuju menuju ke museum yang menceritakan sejarah  peradaban keislaman di Indonesia (namanya mengindikasikan begitu). Arsitektur museum kali ini jauh terkesan lebih kuno dari museum sebelumnya. Gedung bangunan tersebut diambil dari gedung peninggalan Belanda yang menambahkan kesan bersejarah padanya, ditambah lagi dengan adanya patung dewa hermes yang dibawa langsung oleh pedagang eropa sebagai hadiah untuk kepala daerah setempat.

Untuk kali ini, kami dibimbing oleh seorang pria dan langsung saja kami diarahkan ke sumur dan penjara bawah tanah peninggalan Belanda yang masih ada hingga saat ini. Setelah merasa cukup melihat-lihat, pak pembimbing langsung membawa kami ke dalam museum. Langkah awal kami ke dalam museum disambut dengan pintu kayu besar bergaya kolonial. Di sana terdapat perjanjian tentang peresmian gedung tersebut yang bertuliskan dengan aksara Belanda (sebagaimana didirikan oleh negara kincir angin tersebut).

Kemudian ruangan besar menanti kami di seberang koridor utama. Di sana terdapat barang-barang peninggalan islam maupun Belanda yang dipajang beserta sejarahnya. Pak pembimbing menjelaskan tentang barang-barang peninggalan tersebut. Melihat barang-barang tersebut terkisahkan banyak cerita olehnya. Tak terbayang bertapa sulitnya Sultan Fatahillah membebaskan Sunda Kelapa dari belenggu para penjajah di masa lampau. Setelah penjelasan pembimbing selesai, kami langsung melanjutkan ke ruangan berikutnya.

Ruangan ini sangat menarik perhatian kami yang mana di sana terdapat lukisan dinding yang menjelaskan tentang perjuangan rakyat Indonesia. Tidak hanya itu, di sana juga terdapat miniatur daerah Jakrta yang mana dahulunya Jayakarta. Sayang sekali, kami tak bias berlama-lama, pak pembimbingpun langsung mengarahkan kami semua ke lantai dua.

Kami menaiki tangga bak pasukan yang haus akan ilmu. Di lantai dua ada banyak sekali artefak peninggalan Belanda. Mulai dari gelas, teko, piring, perhiasan, dan juga ruang rapat Belanda yang mana dahulu menjadi tempat penghakiman bagi para koruptor. Nilai kesejarahan yang dimiliki museum ini sangat berharga. Lebih-lebih lagi, penjelasan dari pak pembimbing yang sangat mendetail membuat kami lebih paham lagi.

Saat bayangan tepat berada di titik zenital (0o), kamipun menyudahkan perjalanan kami untuk bagian kedua di Museum Fatahillah. Kami terpaksa harus berpamitan kembali lagi, berhubung adzan dzuhur memanggil, kami harus mendahulukan panggilan Illah sang pencipta. Setelah selesai menunaikan keawajiban, kamipun makan siang untuk mengisi sedikit tenaga. Tibalah kemudian, waktu yang kami semua tunggu-tunggu, alias freetime!

Selama freetime, kami pergi kesana kemari, berpencar-pencar mengelilingi daerah Kota Tua. Kami bertemu dengan beberapa turis di sana. Beberapa dari kami pergi mewawancarai mereka. Ada juga yang berkeliling mencari buah tangan. Sebagian lagi, pergi mencari spot-spot berfoto bertemakan kelasik era 19-an.  Waktu terus bergulir hingga pukul 14.15. Kamipun mau tak mau harus bersiap untuk kembali ke sekolah tercinta. Setelah semua kembali dan berkumpul di bus, kami langsung berangkat pulang…

Padatnya perjalanan pulang

Perjalanan pulang tak terasa seperti perjalanan pergi. Kebanyakan dari kami sudah lelah dan akhirnya memilih tidur selama panjang perjalanan. Beberapa dari kami masih sempat melepaskan canda tawanya. Sedang saya pribadi lebih memilih untuk mengistirahatkan diri. Selama perjalanan, kami sempat berhenti terlebih dahulu untuk menyelenggarakan shalat ashar. Kamipun sampai pada pukul 18.30 kurang lebih. Sungguh perjalanan yang benar-benar melelahkan untuk hari ini. Oiya, Alhamdulillah kami semua kembali dengan selamat

Profil Penulis

Aqil Mahdi Rahim
Kelas X Tamayyuz

Penyunting : Ismail Ramadhani
Kelas XI IPA I

Berkawan Dengan Protozoa

Berkawan Dengan Protozoa

Oleh : Ismail Ramadhani

Angin mencintai laju bus yang melenggang bebas di arena tapak aspal. Hari ini, dingin luluh lantak tak terbantahkan oleh bara api semangat para santri yang menunggu-nunggu tanggal Enam November 2019. “Kalian besok pergi praktikum ke IPB, bukan?” Sekelebat ingatanku tempo bertanya pada Naufal kelas 10 menyelisik diam-diam, “Iya, punya jas lab, kan?” Balasnya bertanya.

“Iya, ada. Kenapa?”
“Pinjam dong”

            Aku menyeringai, melihat semburat pemandangan yang berlayar depan kaca jendela bus. Hari ini, kawan-kawan dari tim santri millennial berkesempatan ikut mengabadikan pengalaman-pengalaman praktikum yang ditujukan untuk pengembangan pembelajaran biologi kelas sepuluh. “Materi praktikumnya nanti tentang pengenalan mikroskop dan paramaecium!” Ustad Farouk memberi sentuhan spoiler sederhana depan selasar bus. “Setelah ini, kita turun dulu makan depan Masjid Al-Atiyah!”

Kami turun dengan semangat masih menggantung di langit-langit benak, walaupun pada keadaan konkretnya, kami seharusnya tergopoh lapar turun dari bus. Tak memakan waktu lama untuk sekedar menyantap sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi dengan alunan kegembiraan mewarnai dinding bus.

            Bus melenggang masuk ke dalam Universitas Institut Pertanian Bogor dan memarkirkan empat rodanya tepat depan selasar gedung laboratorium praktikum dasar. Kami tumpah ruah turun. Tim santri millennial mengikuti para santri kelas sepuluh dari belakang sembari mempersiapkan senjata kami.

            “Siap, guys?” Terhitung ada enam anggota tim yang berkesempatan ikut. Satu kawan kita dari bagian video editing, dua dari kameramen, dua dari redaksi dan jurnalistik, serta satu kawan kita dari pengembangan software dan hardware.

Terhitung lima? Yap, satu kawan kita bertugas memotret kami yang lainnya, jangan lupakan, ya haha (Untukmu kawan, aku sisipkan di kanan pojok foto, berterima kasihlah~).

            Back to the point, setelah semuanya duduk tenang-tenang sembari sumringah mengenakan jas lab yang mewarnai seantero ruangan, kami mulai berkeliling dan beraksi. Ada yang mendokumentasikan kegiatan, ada pula yang berkutat dengan video editing, dan mempersiapkan diri untuk bertausiyah depan plat iconic IPB.

Kegiatan pertama, sebelum yang lain berkutat dengan mikroskop, tentunya dimulai dengan presentasi pengenalan. Jenis mikroskop, bagian-bagiannya seperti lensa okuler ataupun preparat diberikan secara lengkap oleh dosen-dosen pembimbing terkait. Setelah pengenalan mikroskop selesai, materi berlanjut menuju protozoa yang dibawakan oleh Bapak Dosen Ir.Tri Heru Widarto M.sc.

Sampailah mereka berlabuh pada poin yang ditunggu-tunggu. Dengan cekatan mereka mondar-mandir dalam  ruangan, mengambil preparat, memasangnya pada meja mikroskop, ataupun mengatur perbesaran mikroskop. “Paramaeciumnya gerak, ei!” Suara bersahut-sahutan seolah mengejar kami yang berusaha mengambil dokumentasi terbaik.

Empat jam penuh berkawan dengan protozoa, mikroskop, preparat, dan hawa-hawa ruangan laboratorium yang menyenangkan dan nyaman. Sementara sang raja siang menggantung tepat di atas singgasananya, kami semua pergi menuju bus untuk melanjutkan kegiatan. Bus kembali berjalan, kini mendaratkan tujuannya pada masjid utama IPB sembari menyantap makan siang.

            Istirahat sejenak, sampai jam sudah berlari menuju angka setengah tiga seolah melempar kode untuk segera pulang. “Yuk, kita pulang” Ustad Farouk mengajak seluruh rombongan untuk kembali berkumpul ke dalam bus setelah menyelesaikan pertemuannya dengan wakil dekan pengembangan dan kerjasama IPB.

            Hari ini, mereka ̶  kita, belajar. Entah itu untuk fungsi laten sebagai harfiahnya, memahami konsep kerja mikroskop, bagaimana protozoa memanfaatkan alat geraknya (flagella, silia, ataupun kaki cambuk), hingga pengolahan data setingkat mahasiswa dan peneliti. Ataupun juga, belajar dalam artian manifes, seperti kami, yang belajar berorganisasi dan mengemban tanggung jawab sebagai tim santri millennial yang merangkup jurnalistik dan redaksi, video editing, desain grafis, sampai pengembangan software dan hardware. Lagi, ini merupakan selingan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk pembelajaran dan edukasi! Sampai jumpa IPB!

11 November 2019.

Profil Penulis
Ismail Ramadhani
14 November 2002.
Kota Tangerang.

Dewan redaksi tim santri millennial satu ini sebelumnya belum pernah memiliki pengalaman apapun terkait perihal-perihal yang berkaitan langsung dengan redaksi. “Jadi, aku pikir, bagus untuk mengimprove soft skill pribadi dengan mengikuti perkumpulan dan kegiatan-kegiatan seperti ini.”

Open chat
Hubungi kami