.post_kegiatan{display: none;}
Berpesta Dengan Sains

Berpesta Dengan Sains

Oleh : Ismail Ramadhani

Temaram pagi menyapu sayu mata para pejuang, yang hendak bersiap untuk mewakilkan sekolahnya dalam sebuah ajang bergengsi tahunan. Pesta Sains Nasional, begitu tertulis di kertas pengenal yang melingkar di leher kami. Oh, kau harus tahu betapa bergidiknya merasakan dingin ikut turun  membelai pelipis dalam analogi keringat!

Dua November 2019. Hari pertama kami berjuang. Dengan senyum antusias menundukkan gelegar gugup membara, kami bersama-sama turun membelai setapak yang mengantarkan kami menuju tempat paling iconic sepanjang masa di Institus Pertanian Bogor, Darmaga, Kabupaten Bogor.

Sebenarnya, itu hanya sekadar plat bundar raksasa dengan warna birunya menyaingi langit bertuliskan besar-besar Institut Pertanian Bogor. Kamipun akhirnya memutuskan, untuk mengabadikan momen sejenak untuk sekadar mengambil foto bersama.

Setelahnya, skema cukup sederhana. Pembukaan secara meriah di gedung graha widya wisuda, dan masing-masing dari kami dipandu menuju ruangan lomba masing-masing. Perlombaan berlalu sengit, percayalah.

Sebelumnya, terdapat delapan jenis mata pelajaran yang dilombakan dalam pesta sains nasional yang sudah berjalan selama kurang lebih tujuh belas tahun lamanya. Dimulai dari Lomba Cepat Tepat Biologi (LCTB), STEM Young Researcher Award (SYRA), Kompetisi Statistika Junior (KOMSTAT), Matematika Ria (MR), Chemistry Challenge (CC), Meteorologi Interaktif (METRIK), Computer Problem Solving Competition (CPSC), Lomba Karya Ilmiah Populer (LKIP), dan Kompetisi Fisika (KF).

Untuk sekolah kami sendiri, kami mengirimkan perwakilan lima kelompok untuk LCTB ( satu kelompok terdiri dari tiga orang dengan komposisi empat kelompok ikhwan dan satu kelompok akhwat), satu kelompok untuk CC (akhwat), satu kelompok mandiri untuk MR (ikhwan), dan satu kelompok METRIK (ikhwan).

Ada satu yang menarik dari kancah perlombaan METRIK. Untuk pemanasan sebelum babak penyisihan, ada sebuah babak yang mereka torehkan nama dengan sebutan Delegasi Ilmuwan Muda. Babak ini secara sederhana menganalogikan setiap kelompok sebagai delegasi berbagai negara dengan kaitannya terkait persetejuan terhadap polidemik politik internasional, Carbon Trading. Aku takkan melupakan bagaimana rasanya tersindir hebat saat forum dimulai. Memang, mewakili negara penghasil emisi gas buangan terbesar di dunia harus siap menanggung resiko tersentuh sentilan jahil para delegasi dari negara oposisi. Dan itu memanaskan situasi, begitulah hiperbolanya. Lain lagi dengan kisah unik dari kawan-kawan kami yang melakukan praktikum di babak semifinal LCTB di hari kedua ̶  Tiga November 2019. Terdapat total dua kelompok dari pranata pendidikan kami yang alhamdulillah lolos lenggang masuk menuju semifinal di gedung departemen biologi.

“Tadi ada praktikum tentang lebah, stad” Salah seorang kawan kami, Ghozi , melempar komentar pelepas penat kepada guru pembimbing kami, Ustad Farouk, begitu hormat kami kepada beliau. “Tadi itu yang paling susah, terkait praktikum memindahkan jenis bakteri tertentu, kak” Terang Ghani padaku selepas menggaruk pelipis kepalanya seolah ingin merontokkan beban yang tadi sempat menggantung di kepalanya. “Kayaknya seru banget, deh?” Aku menggumam rendah.

“Tadi ada praktikum tentang lebah, stad” Salah seorang kawan kami, Ghozi , melempar komentar pelepas penat kepada guru pembimbing kami, Ustad Farouk, begitu hormat kami kepada beliau. “Tadi itu yang paling susah, terkait praktikum memindahkan jenis bakteri tertentu, kak” Terang Ghani padaku selepas menggaruk pelipis kepalanya seolah ingin merontokkan beban yang tadi sempat menggantung di kepalanya. “Kayaknya seru banget, deh?” Aku menggumam rendah.

“Ambil positifnya aja. Jadi bisa merasakan berbagai jenis praktikum” Abiyu mengangkat ibu jarinya sembari tersenyum seolah telah merasa puas akan apapun hasilnya nanti. Aku tersenyum balik dan duduk termenung, yang namanya pengalaman itu harganya tiada tara. Tidak tersubstitusi, tidak pula lekas luntur terkarat waktu.

Secara garis besar, hari kedua banyak kami habiskan di dalam gedung graha widya wisuda menyaksikan berbagai macam seminar edukasi yang tentunya, menuang berbagai macam pengetahuan dalam samudra ketidaktahuan kami. Mulai dari pengembangan kemampuan entrepreneur, tentang bagaimana membuat titik putar ketika jatuh dalam keterpurukan, manajemen waktu belajar, dan pengembangan minat-bakat yang dibawakan oleh mantan santri berprestasi nasional!

Memang, hasil mungkin belum membayar lunas seluruh hasil perjuangan kami tempo hari. Tapi itulah indahnya perjuangan, ketidaktahuan, ketidakmampuan kita untuk menerka-nerka akhir yang disajikan Allah, adalah esensi sesungguhnya yang menghiasi kehidupan kita.

Untuk kisah yang selanjutnya, kami menunggumu datang. Dan sembari menunggumu, aku ucapkan selamat tinggal, karena ada beberapa hal yang harus aku dan kawanku perjuangkan, agar kau dapat terpana dengan jamuan terbaik kami nantinya, wahai kisah yang menanti kami!

10 November 2019.

Profil Penulis
Ismail Ramadhani
14 November 2002.
Kota Tangerang.

Mewakili METRIK dalam ajang Pesta Sains Nasional 2019 tempo hari, Ismail Ramadhani pulang dengan menuliskan kisah perjuangannya beserta kawan-kawannya dalam kancah tempur yang menantang! “Aku takkan pernah lupa, rasanya menjadi delegasi China yang diincar oleh kawan Rusiaku, tempo delegasi kemarin!”

Kampus A
Jl. Raya Arco No.1 RT02 RW01 - Ragamukti, Kelurahan - Citayam, Kecamatan - Tajurhalang, Bogor.
Peta Lokasi

Kampus B
Jl. Raya Pengasinan, Kelurahan - Pengasinan, Kecamatan - Bojongsari, Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Peta Lokasi

Open chat
Hubungi kami