.post_kegiatan{display: none;}

Gadaikan Budaya Demi Seonggok Kursi Pendidikan?

Pikukuh Karuhun, telah lama larik-lariknya menjadi pedoman dalam kehidupan Suku Baduy yang terasing. Sekian darinya ialah, menutup diri dari eksistensi pendidikan formal.

Masyarakat Baduy Luar sudah mengalami pergeseran budaya dari komunitas Baduy, karena mereka sudah memperbolehkan menggunakan telepon seluler. Fenomena ini disebabkan oleh . . . 

Pertanyaan tersebut terpampang jelas pada lembar soal Olimpiade Sains Nasional Sekolah Menengah Pertama (SMP), cabang lomba Ilmu Pengetahuan Sosial tahun 2017 seleksi tulis tingkat Nasional di Pekanbaru, Riau. Tepatnya, tiga tahun sebelum namanya resmi digantikan oleh Kemendikbud sebagai ‘Kompetisi Sains Nasional’.
Ruangan ramai dipenuhi suara pelepas penat oleh anak-anak perwakilan lomba dari cabang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sembari menunggu anak-anak perwakilan Ilmu Pengetahuan Alam selesai dengan seleksi praktikumnya, kami semua dibebaskan untuk saling berinteraksi satu sama lain, menambah relasi.
“Eh, kalian itu kontingen dari Banten, bukan? Tadi ada soal yang merujuk ke komunitas adat asli Banten, kan?” Anin namanya, kawan baruku dari Riau. Aku dan Angel, kawan sekotingenku yang tak pelik waktu itu duduk cukup berdekatan saling mengangguk bersama.
“Katanya, mereka itu tertutup sekali, bukan? Ceritakanlah sedikit.” Menjawab pertanyaan Anin, Angel menimpali, “Bisa dikatakan begitu! Mereka benar-benar tertutup , mulai dari minimnya listrik dan alat elektronik, bahkan mereka ada larangan khusus tidak diperbolehkannya mengenyam pendidikan formal!”
“Mereka benar-benar berpegang pada konsep stick to the nature. Guruku dan kawan kami dari Lebak ada katakan, bahwa salah satu jembatannya disambung dari akar pohon dengan bambu anyaman sebagai alasnya!” Aku menyahut semangat, terpaut satu-dua kursi lebih depan dibanding Anin dan Angel.
Konsep stick to the nature hanyalah salah satu dari peradatan Baduy yang telah dijaga kesuciannya turun-temurun. Begitu juga dengan budaya menutup komunitasnya dari pengaruh luar yang berlebih, semua dirangkum dalam pikukuh karuhun. Pikukuh dapat diartikan sebagai aturan mutlak, sedang Karuhun berarti turun-temurun atau moyang.
Termasuk diantaranya, larangan untuk mengenyam bangku pendidikan formal. Para Puun atau orang yang dituakan dalam strata komunitas Baduy, beranggapan bahwa dengan mempelajari menulis lewat pendidikan formal dapat mengubah kontinuitas pikukuh karuhun itu sendiri.
Begitu taatnya pada adat, strata yang tercipta pada masyarakatnya pun terbentuk dari ketaatannya pada pikukuh karuhun. Komunitas yang senang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Urang Kanekes ini terbagi menjadi tiga.
        Urang Tangtu atau Baduy dalam, adalah yang masih memegang keseluruhan prinsip adat. Urang Panamping atau Baduy luar, adalah mereka yang hidup sudah sedikit lebih bebas tetapi masih berpegang pada pikukuh dengan erat. Urang Dangka atau Baduy dangka adalah yang terluar, kebanyakan sudah memeluk agama Islam dan mempertahankan adat-adat utamanya saja.
Aku pernah sekali bertanya pada kawanku dari Rangkasbitung, Lebak-yang terhitung dekat dengan lokasi komunitas adat Baduy itu sendiri, yaitu di Lereng Pegunungan Kendeng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten -perbedaan nyata antara Baduy dalam dan Baduy luar.
“Keadaan yang di dalam lebih ketat aturannya, Il.” Jawab Althaf kala itu. Karenanya, dalam kegamangan pemahamanku saat itu, aku sempat berpikir, kalau semisal mereka -orang-orang Baduy-tetap memaksakan kehendaknya untuk menimba pendidikan formal dan diusir dari kampungnya, apakah sama saja dengan menggadaikan budaya mereka sendiri demi seonggok kursi pendidikan?

Memunculkan pertanyaan itu, apa aku benar-benar seorang pemuda yang dengan klaimnya ‘berpendidikan’?

Aku diam sebentar. Sudah lewat tiga tahun jika aku mengingat-ingat kapan berlalunya topik percakapan tersebut dan membuatku kini kembali hanyut mencari sebuah makna yang sebenarnya. Apa arti budaya bagimu sendiri, Il?
        Tarian dengan selendang dan topeng ukiran? Nyanyian sembari memainkan alat musik tradisional? Kerajinan tangan semata? Kalau nyatanya seperti itu, arti budaya sudah terdegradasi menjadi sebuah unsur estetika semata, bukan begitu?
Padahal kalau ditelaah lagi, budaya itu tidak diwariskan secara generatif, melainkan penguasaan dan pemahamannya dicapai melalui proses belajar. Proses belajar yang terangkum dalam pendidikan pun kompleks dan tidak hanya dengan duduk di depan papan tulis lalu mencatat.
Pengajaran tentang arti-arti kehidupan lewat edukasi verbal seperti yang diajarkan oleh tetua adat kepada para pemuda kanekes saat tradisi menanam padi atau ngaseuk, merupakan bentuk lain dari belajar. Kenapa? Karena pada akhirnya, esensi dari pembelajaran yang sesungguhnya - yaitu, integrasi nilai-nilai pengetahuan dapat sampai dan kemudian diimplementasikan dalam pencapaiannya untuk menguasai sebuah budaya. Demikian kau dapat menyebutnya dengan belajar!
Aku tertegun sebentar dan sadar bahwa semuanya lebih kompleks sekarang. Pendidikan tanpa budaya pun sama saja seperti tumbuhan tak berakar. Karena lebih dari sekadar media pewarisan budaya, pendidikan juga merupakan media pembudayaan atau pengembangan dari nilai luhur yang kemudian diadaptasi dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan-perubahan yang melingkari budaya tersebut.
Pendidikan membawa inovasi untuk menjadikan komponen masyarakatnya lebih aktif serta reaktif, kreatif, dan menerima adanya sikap keterbukaan. “Miss Ajeng, apa mereka benar-benar menolak pendidikan formal, kalau begitu?” Tanyaku pada orang yang pertama kali mengenalkanku pada komunitas adat ini.
“Mungkin dalam pandangan orang awam seperti kita, itu hal yang tidak biasa. Tapi dalam pandangan mereka yang sudah memeluk pikukuh karuhun lamanya, hal tersebut mungkin tidak menganggu mereka.”Jawabnya menjelaskan.
Tapi, eksistensi dari globalisasi juga memberikan pengaruh pada sebagian anggota komunitasnya. Sebagian tertarik untuk merasakan pendidikan formal, sebagian lagi merasa cukup dengan proses pembelajaran yang mereka dapatkan sekarang.
Seperti misalnya, Urang-urang Dangka yang sudah mulai lebih terbuka dengan eksistensi pendidikan dan menyekolahkan anak-anaknya di madrasah perbatasan kampung. Begitu juga dengan Urang-urang Panamping yang berangkat diam-diam dengan pakaian adatnya dan menggantinya dengan seragam sesampainya dalam rangka tetap menghormati pikukuh karuhun.
Bentuk penghormatan lainnya adalah dengan menyimpan buku-buku di madrasah atau warung-warung di perbatasan kampung agar tidak dianggap membawa pengaruh luar ke dalam perkampungan.
Sedang, Urang-urang Tangtu lebih memilih pembelajaran dengan gaya yang tradisional. “Dalam kunjungan Miss Ajeng di tahun 2010-2011, Miss temukan beberapa relawan pendidikan yang mengajarkan anak-anak Kanekes lewat permainan daerah seperti mengukirnya diatas tanah untuk permainan engklek atau melatih pengucapannya dengan permainan petak umpet.” Sekarang, pembelajaran dari para relawan pendidikan tersebut diteruskan oleh Urang-urang Panamping dan Dangka kepada Urang-urang Tangtu.
Pendidikan itu dicapai dengan belajar. Belajar yang memiliki artian luas, membawa aku pada kesadaran bahwa, kemajuan yang identik dengan stigma ‘berpendidikan’ memiliki standarnya tersendiri bagi tiap-tiap lapisan masyarakat.
Tidak menggunakan metode yang seragam, bukan berarti tidak merdeka belajar. Merdeka belajar pun tidak berarti menggadaikan gelora budaya yang ada. Stigma sebuah komunitas bahagia pun tidak terjerat dengan keterbatasan dalam belajar.
Tidak hidup sekadar hidup, karena babi hutan pun dapat melakukannya, tidak kerja sekadar kerja, karena kera pun juga demikian, kutip Buya Hamka.
Kalau orang sunda boleh berucap,

 

“ Sanajan teu lumpat, tapi ulah cicing.”

 

Yang artinya, Walau tak berlari, janganlah diam. Karena pendidikan selalu menjadikan tiap pelakunya aktif dan kreatif. Maka, walau pelan-pelan teruslah capai arti ‘berpendidikan’ bagimu sendiri dengan merdeka belajar, gelora budaya, dan keadaan komunitas yang bahagia!

 

Profil Penulis

Ismail Ramadhani
14 November 2002
Kota Tangerang

 

Perihal perspektif itu hal yang cukup kompleks.
Mungkin kadang hanya tinggal membalik lembaran kartunya,
tapi itu saja cukup untuk memunculkan gambar baru!

Ekspedisi Kota Tua

Ekspedisi Kota Tua

Oleh : Aqil Mahdi Rahim

Jelajah Kota Tua

Dari setelah shubuh, kami bersiap untuk keberangkatan. Sedikit bersih-bersih dan bersiap dengan mengenakan dresscode yang telah ditentukan sebelumnya. Sebelum berangkat, kami mengadakan apel untuk pengarahan, terutama kaitannya dengan daerah mana saja yang akan kami singgahi nanti di sana, di Kota Tua, Jakarta. Setelah selesai, kamipun langsung diarahkan menuju bus dan berangkat…

 

Semilir angin pagi mengiringi perjalanan kami. Waktu saat itu masih menunjukkan pukul 06.15, yang menandakan kami masih dapat menikmati asrinya suasana pagi. Canda tawa menghiasi perjalanan. Selama perjalanan, lalu lintas agak terganggu karena ramainya Kota Jakarta. Selama 3 jam penuh kami berada di perjalanan. Perjalanan yang cukup panjang untuk mengawali hari, bukan?

Depok-jakarta Selatan (Kota Tua) pun akhirnya kelar.

Setelah sampai di Kota Tua, kamipun langsung menuju ke persinggahan pertama, yaitu MBI yang merupakan kepanjangan dari Museum Bank Indonesia. Pintu besi berukirkan bunga menunggu kami di pintu depan. Kemudian, kami mengantri layaknya mengambil urutan lotre, sebelum akhirnya memasuki daerah museum. Eits, tapi itu bukan masalah. Karena sambil menunggu, kami dapat menikmati relik-relik kaca luar biasa yang melukiskan keragaman ekonomi Indonesia.Di area pameran, kami melihat banyak pemandangan indah.

Tujuan utama kami pergi ke Kota Tua adalah untuk untuk memetik pembelajaran yang bisa kami dapat sembari mendengarkan berbagai penjelasan dari kakak pembimbing yang membuat kami tentunya jauh lebih bersemangat dan tertarik untuk mencari tahu tentang apa saja yang terdapat di Museum Bank Indonesia ini. Mulai dari model kantor utama, lorong perkembangan, dan sejarah keuangan Indonesia, sampai kepada kantor hijau, ruang emas, dan masih banyak hal menarik lainnya.

Di kantor utama, kami melihat beberapa figur belanda yang menjadi perawakan suasana perkantoran kuno. Kemudian kami berpindah ke lorong yang mana di sana menjelaskan segala tetek-bengek perekonomian Indonesia. Mulai dari zaman sebelum penjajahan yang manakala masih menggunakan sistem barter rempah-rempahan, yang dilanjut dengan masuknya peradaban orang eropa ke Nusantara dan mengajarkan perdagangan, hingga dibentuknya VOC atau yang umumnya dikenal juga dengan Verenigde Oost Indische Campagnie.

Berlanjut menuju lorong berikutnya, menjelaskan tentang perkembangan bank di Indonesia. Mulai dari bank pertama yang terdapat di Indonesia, yaitu Bank Coreight De Van B yang saat itu marak memerkerjakan orang Indonesia sebagai buruh dan orang China sebagai atasan maupun pegurus yang berakhir dengan bangkrutnya perusahaan akibat korupsi orang Belanda. Kemudian dibentuklah Javasche De Bank yang mana masih berada di bawah naungan Belanda sampai sahamnya kemudian dibeli secara penuh oleh negara dan diganti menjadi Bank Indonesia (BI) yang sampai sekarang masih berdiri kokoh hingga kedepannya.

Cahaya remang-remang di lorong memberikan kesan bersejarah hingga ke ujung lorong yang mana di sana terdapat banyak sampel uang milik Indonesia. Mulai dari sebongkah logam yang kemudian berevolusi menjadi koin hingga selembaran uang kertas yang kita gunakan sekarang. Keseluruhan sampel tersebut diperoleh dengan menyertakan masa berlaku dan sejarahnya. Semua hal tersebut membuat lorong ini tidak boleh dilewatkan begitu saja apabila kawan-kawan nanti berkunjung ke Museum Bank Indonesia, karena nilai sejarahnya yang luar biasa!

Salah satu sampel uang pada masa itu

Setelah keluar dari lorong kami langsung beranjak ke kantor rapat yang sekelilingnya dilapisi lapisan cat berwarna hijau. Desain dinding dibuat sedemikian rupa dengan giok yang mana pula berwarna hijau untuk melambangkan kekayaan. Di dalam ruangan rapat hijau tersebut, kita dapat melihat beberapa figur yang tampak sedang berbincang. Figur tersebut tidak hanya melulu soal orang pribumi, namun juga terdapat beberapa figur orang asing yang secara tidak langsung melambangkan kerja sama multilateral yang terjalin di negara ini, Negara Indonesia. Ruangan tersebut benar-benar menyampaikan kesannya yang klasik nan orisinil yang akan sangat tergambar di mata para pengunjung.

Waktu terus berjalan. Tanpa perlu berlama-lama, kami langsung menuju ke pameran terakhir, yaitu ruangan emas. Emas batangan ditumpuk layaknya batu bata yang tersusun sangat rapih. Sekeliling ruangan dipenuhi warna emas berkilap yang membuat mata tak kehilangan pandang akannya. Tak terasa, kami sudah satu jam penuh berada di sana. Sayang sekali, waktu membatasi kami dan tentunya, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Dengan begitu, kamipun pamit dan melanjutkan perjalanan…

Matahari sudah menaiki dengkulan hari. Kami melanjutkan ke museum berikutnya dengan menyebrangi jalanan layaknya band legendaris asal Amerika, The Beatles. Kamipun mengikuti jalan setapak yang tertuju menuju ke museum yang menceritakan sejarah  peradaban keislaman di Indonesia (namanya mengindikasikan begitu). Arsitektur museum kali ini jauh terkesan lebih kuno dari museum sebelumnya. Gedung bangunan tersebut diambil dari gedung peninggalan Belanda yang menambahkan kesan bersejarah padanya, ditambah lagi dengan adanya patung dewa hermes yang dibawa langsung oleh pedagang eropa sebagai hadiah untuk kepala daerah setempat.

Untuk kali ini, kami dibimbing oleh seorang pria dan langsung saja kami diarahkan ke sumur dan penjara bawah tanah peninggalan Belanda yang masih ada hingga saat ini. Setelah merasa cukup melihat-lihat, pak pembimbing langsung membawa kami ke dalam museum. Langkah awal kami ke dalam museum disambut dengan pintu kayu besar bergaya kolonial. Di sana terdapat perjanjian tentang peresmian gedung tersebut yang bertuliskan dengan aksara Belanda (sebagaimana didirikan oleh negara kincir angin tersebut).

Kemudian ruangan besar menanti kami di seberang koridor utama. Di sana terdapat barang-barang peninggalan islam maupun Belanda yang dipajang beserta sejarahnya. Pak pembimbing menjelaskan tentang barang-barang peninggalan tersebut. Melihat barang-barang tersebut terkisahkan banyak cerita olehnya. Tak terbayang bertapa sulitnya Sultan Fatahillah membebaskan Sunda Kelapa dari belenggu para penjajah di masa lampau. Setelah penjelasan pembimbing selesai, kami langsung melanjutkan ke ruangan berikutnya.

Ruangan ini sangat menarik perhatian kami yang mana di sana terdapat lukisan dinding yang menjelaskan tentang perjuangan rakyat Indonesia. Tidak hanya itu, di sana juga terdapat miniatur daerah Jakrta yang mana dahulunya Jayakarta. Sayang sekali, kami tak bias berlama-lama, pak pembimbingpun langsung mengarahkan kami semua ke lantai dua.

Kami menaiki tangga bak pasukan yang haus akan ilmu. Di lantai dua ada banyak sekali artefak peninggalan Belanda. Mulai dari gelas, teko, piring, perhiasan, dan juga ruang rapat Belanda yang mana dahulu menjadi tempat penghakiman bagi para koruptor. Nilai kesejarahan yang dimiliki museum ini sangat berharga. Lebih-lebih lagi, penjelasan dari pak pembimbing yang sangat mendetail membuat kami lebih paham lagi.

Saat bayangan tepat berada di titik zenital (0o), kamipun menyudahkan perjalanan kami untuk bagian kedua di Museum Fatahillah. Kami terpaksa harus berpamitan kembali lagi, berhubung adzan dzuhur memanggil, kami harus mendahulukan panggilan Illah sang pencipta. Setelah selesai menunaikan keawajiban, kamipun makan siang untuk mengisi sedikit tenaga. Tibalah kemudian, waktu yang kami semua tunggu-tunggu, alias freetime!

Selama freetime, kami pergi kesana kemari, berpencar-pencar mengelilingi daerah Kota Tua. Kami bertemu dengan beberapa turis di sana. Beberapa dari kami pergi mewawancarai mereka. Ada juga yang berkeliling mencari buah tangan. Sebagian lagi, pergi mencari spot-spot berfoto bertemakan kelasik era 19-an.  Waktu terus bergulir hingga pukul 14.15. Kamipun mau tak mau harus bersiap untuk kembali ke sekolah tercinta. Setelah semua kembali dan berkumpul di bus, kami langsung berangkat pulang…

Padatnya perjalanan pulang

Perjalanan pulang tak terasa seperti perjalanan pergi. Kebanyakan dari kami sudah lelah dan akhirnya memilih tidur selama panjang perjalanan. Beberapa dari kami masih sempat melepaskan canda tawanya. Sedang saya pribadi lebih memilih untuk mengistirahatkan diri. Selama perjalanan, kami sempat berhenti terlebih dahulu untuk menyelenggarakan shalat ashar. Kamipun sampai pada pukul 18.30 kurang lebih. Sungguh perjalanan yang benar-benar melelahkan untuk hari ini. Oiya, Alhamdulillah kami semua kembali dengan selamat

Profil Penulis

Aqil Mahdi Rahim
Kelas X Tamayyuz

Penyunting : Ismail Ramadhani
Kelas XI IPA I

Berkawan Dengan Protozoa

Berkawan Dengan Protozoa

Oleh : Ismail Ramadhani

Angin mencintai laju bus yang melenggang bebas di arena tapak aspal. Hari ini, dingin luluh lantak tak terbantahkan oleh bara api semangat para santri yang menunggu-nunggu tanggal Enam November 2019. “Kalian besok pergi praktikum ke IPB, bukan?” Sekelebat ingatanku tempo bertanya pada Naufal kelas 10 menyelisik diam-diam, “Iya, punya jas lab, kan?” Balasnya bertanya.

“Iya, ada. Kenapa?”
“Pinjam dong”

            Aku menyeringai, melihat semburat pemandangan yang berlayar depan kaca jendela bus. Hari ini, kawan-kawan dari tim santri millennial berkesempatan ikut mengabadikan pengalaman-pengalaman praktikum yang ditujukan untuk pengembangan pembelajaran biologi kelas sepuluh. “Materi praktikumnya nanti tentang pengenalan mikroskop dan paramaecium!” Ustad Farouk memberi sentuhan spoiler sederhana depan selasar bus. “Setelah ini, kita turun dulu makan depan Masjid Al-Atiyah!”

Kami turun dengan semangat masih menggantung di langit-langit benak, walaupun pada keadaan konkretnya, kami seharusnya tergopoh lapar turun dari bus. Tak memakan waktu lama untuk sekedar menyantap sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Lagi-lagi dengan alunan kegembiraan mewarnai dinding bus.

            Bus melenggang masuk ke dalam Universitas Institut Pertanian Bogor dan memarkirkan empat rodanya tepat depan selasar gedung laboratorium praktikum dasar. Kami tumpah ruah turun. Tim santri millennial mengikuti para santri kelas sepuluh dari belakang sembari mempersiapkan senjata kami.

            “Siap, guys?” Terhitung ada enam anggota tim yang berkesempatan ikut. Satu kawan kita dari bagian video editing, dua dari kameramen, dua dari redaksi dan jurnalistik, serta satu kawan kita dari pengembangan software dan hardware.

Terhitung lima? Yap, satu kawan kita bertugas memotret kami yang lainnya, jangan lupakan, ya haha (Untukmu kawan, aku sisipkan di kanan pojok foto, berterima kasihlah~).

            Back to the point, setelah semuanya duduk tenang-tenang sembari sumringah mengenakan jas lab yang mewarnai seantero ruangan, kami mulai berkeliling dan beraksi. Ada yang mendokumentasikan kegiatan, ada pula yang berkutat dengan video editing, dan mempersiapkan diri untuk bertausiyah depan plat iconic IPB.

Kegiatan pertama, sebelum yang lain berkutat dengan mikroskop, tentunya dimulai dengan presentasi pengenalan. Jenis mikroskop, bagian-bagiannya seperti lensa okuler ataupun preparat diberikan secara lengkap oleh dosen-dosen pembimbing terkait. Setelah pengenalan mikroskop selesai, materi berlanjut menuju protozoa yang dibawakan oleh Bapak Dosen Ir.Tri Heru Widarto M.sc.

Sampailah mereka berlabuh pada poin yang ditunggu-tunggu. Dengan cekatan mereka mondar-mandir dalam  ruangan, mengambil preparat, memasangnya pada meja mikroskop, ataupun mengatur perbesaran mikroskop. “Paramaeciumnya gerak, ei!” Suara bersahut-sahutan seolah mengejar kami yang berusaha mengambil dokumentasi terbaik.

Empat jam penuh berkawan dengan protozoa, mikroskop, preparat, dan hawa-hawa ruangan laboratorium yang menyenangkan dan nyaman. Sementara sang raja siang menggantung tepat di atas singgasananya, kami semua pergi menuju bus untuk melanjutkan kegiatan. Bus kembali berjalan, kini mendaratkan tujuannya pada masjid utama IPB sembari menyantap makan siang.

            Istirahat sejenak, sampai jam sudah berlari menuju angka setengah tiga seolah melempar kode untuk segera pulang. “Yuk, kita pulang” Ustad Farouk mengajak seluruh rombongan untuk kembali berkumpul ke dalam bus setelah menyelesaikan pertemuannya dengan wakil dekan pengembangan dan kerjasama IPB.

            Hari ini, mereka ̶  kita, belajar. Entah itu untuk fungsi laten sebagai harfiahnya, memahami konsep kerja mikroskop, bagaimana protozoa memanfaatkan alat geraknya (flagella, silia, ataupun kaki cambuk), hingga pengolahan data setingkat mahasiswa dan peneliti. Ataupun juga, belajar dalam artian manifes, seperti kami, yang belajar berorganisasi dan mengemban tanggung jawab sebagai tim santri millennial yang merangkup jurnalistik dan redaksi, video editing, desain grafis, sampai pengembangan software dan hardware. Lagi, ini merupakan selingan yang menyenangkan dan bermanfaat untuk pembelajaran dan edukasi! Sampai jumpa IPB!

11 November 2019.

Profil Penulis
Ismail Ramadhani
14 November 2002.
Kota Tangerang.

Dewan redaksi tim santri millennial satu ini sebelumnya belum pernah memiliki pengalaman apapun terkait perihal-perihal yang berkaitan langsung dengan redaksi. “Jadi, aku pikir, bagus untuk mengimprove soft skill pribadi dengan mengikuti perkumpulan dan kegiatan-kegiatan seperti ini.”

Berpesta Dengan Sains

Berpesta Dengan Sains

Oleh : Ismail Ramadhani

Temaram pagi menyapu sayu mata para pejuang, yang hendak bersiap untuk mewakilkan sekolahnya dalam sebuah ajang bergengsi tahunan. Pesta Sains Nasional, begitu tertulis di kertas pengenal yang melingkar di leher kami. Oh, kau harus tahu betapa bergidiknya merasakan dingin ikut turun  membelai pelipis dalam analogi keringat!

Dua November 2019. Hari pertama kami berjuang. Dengan senyum antusias menundukkan gelegar gugup membara, kami bersama-sama turun membelai setapak yang mengantarkan kami menuju tempat paling iconic sepanjang masa di Institus Pertanian Bogor, Darmaga, Kabupaten Bogor.

Sebenarnya, itu hanya sekadar plat bundar raksasa dengan warna birunya menyaingi langit bertuliskan besar-besar Institut Pertanian Bogor. Kamipun akhirnya memutuskan, untuk mengabadikan momen sejenak untuk sekadar mengambil foto bersama.

Setelahnya, skema cukup sederhana. Pembukaan secara meriah di gedung graha widya wisuda, dan masing-masing dari kami dipandu menuju ruangan lomba masing-masing. Perlombaan berlalu sengit, percayalah.

Sebelumnya, terdapat delapan jenis mata pelajaran yang dilombakan dalam pesta sains nasional yang sudah berjalan selama kurang lebih tujuh belas tahun lamanya. Dimulai dari Lomba Cepat Tepat Biologi (LCTB), STEM Young Researcher Award (SYRA), Kompetisi Statistika Junior (KOMSTAT), Matematika Ria (MR), Chemistry Challenge (CC), Meteorologi Interaktif (METRIK), Computer Problem Solving Competition (CPSC), Lomba Karya Ilmiah Populer (LKIP), dan Kompetisi Fisika (KF).

Untuk sekolah kami sendiri, kami mengirimkan perwakilan lima kelompok untuk LCTB ( satu kelompok terdiri dari tiga orang dengan komposisi empat kelompok ikhwan dan satu kelompok akhwat), satu kelompok untuk CC (akhwat), satu kelompok mandiri untuk MR (ikhwan), dan satu kelompok METRIK (ikhwan).

Ada satu yang menarik dari kancah perlombaan METRIK. Untuk pemanasan sebelum babak penyisihan, ada sebuah babak yang mereka torehkan nama dengan sebutan Delegasi Ilmuwan Muda. Babak ini secara sederhana menganalogikan setiap kelompok sebagai delegasi berbagai negara dengan kaitannya terkait persetejuan terhadap polidemik politik internasional, Carbon Trading. Aku takkan melupakan bagaimana rasanya tersindir hebat saat forum dimulai. Memang, mewakili negara penghasil emisi gas buangan terbesar di dunia harus siap menanggung resiko tersentuh sentilan jahil para delegasi dari negara oposisi. Dan itu memanaskan situasi, begitulah hiperbolanya. Lain lagi dengan kisah unik dari kawan-kawan kami yang melakukan praktikum di babak semifinal LCTB di hari kedua ̶  Tiga November 2019. Terdapat total dua kelompok dari pranata pendidikan kami yang alhamdulillah lolos lenggang masuk menuju semifinal di gedung departemen biologi.

“Tadi ada praktikum tentang lebah, stad” Salah seorang kawan kami, Ghozi , melempar komentar pelepas penat kepada guru pembimbing kami, Ustad Farouk, begitu hormat kami kepada beliau. “Tadi itu yang paling susah, terkait praktikum memindahkan jenis bakteri tertentu, kak” Terang Ghani padaku selepas menggaruk pelipis kepalanya seolah ingin merontokkan beban yang tadi sempat menggantung di kepalanya. “Kayaknya seru banget, deh?” Aku menggumam rendah.

“Tadi ada praktikum tentang lebah, stad” Salah seorang kawan kami, Ghozi , melempar komentar pelepas penat kepada guru pembimbing kami, Ustad Farouk, begitu hormat kami kepada beliau. “Tadi itu yang paling susah, terkait praktikum memindahkan jenis bakteri tertentu, kak” Terang Ghani padaku selepas menggaruk pelipis kepalanya seolah ingin merontokkan beban yang tadi sempat menggantung di kepalanya. “Kayaknya seru banget, deh?” Aku menggumam rendah.

“Ambil positifnya aja. Jadi bisa merasakan berbagai jenis praktikum” Abiyu mengangkat ibu jarinya sembari tersenyum seolah telah merasa puas akan apapun hasilnya nanti. Aku tersenyum balik dan duduk termenung, yang namanya pengalaman itu harganya tiada tara. Tidak tersubstitusi, tidak pula lekas luntur terkarat waktu.

Secara garis besar, hari kedua banyak kami habiskan di dalam gedung graha widya wisuda menyaksikan berbagai macam seminar edukasi yang tentunya, menuang berbagai macam pengetahuan dalam samudra ketidaktahuan kami. Mulai dari pengembangan kemampuan entrepreneur, tentang bagaimana membuat titik putar ketika jatuh dalam keterpurukan, manajemen waktu belajar, dan pengembangan minat-bakat yang dibawakan oleh mantan santri berprestasi nasional!

Memang, hasil mungkin belum membayar lunas seluruh hasil perjuangan kami tempo hari. Tapi itulah indahnya perjuangan, ketidaktahuan, ketidakmampuan kita untuk menerka-nerka akhir yang disajikan Allah, adalah esensi sesungguhnya yang menghiasi kehidupan kita.

Untuk kisah yang selanjutnya, kami menunggumu datang. Dan sembari menunggumu, aku ucapkan selamat tinggal, karena ada beberapa hal yang harus aku dan kawanku perjuangkan, agar kau dapat terpana dengan jamuan terbaik kami nantinya, wahai kisah yang menanti kami!

10 November 2019.

Profil Penulis
Ismail Ramadhani
14 November 2002.
Kota Tangerang.

Mewakili METRIK dalam ajang Pesta Sains Nasional 2019 tempo hari, Ismail Ramadhani pulang dengan menuliskan kisah perjuangannya beserta kawan-kawannya dalam kancah tempur yang menantang! “Aku takkan pernah lupa, rasanya menjadi delegasi China yang diincar oleh kawan Rusiaku, tempo delegasi kemarin!”

Kampus A
Jl. Raya Arco No.1 RT02 RW01 - Ragamukti, Kelurahan - Citayam, Kecamatan - Tajurhalang, Bogor.
Peta Lokasi

Kampus B
Jl. Raya Pengasinan, Kelurahan - Pengasinan, Kecamatan - Bojongsari, Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Peta Lokasi

Open chat
Hubungi kami