.post_kegiatan{display: none;}

Pikukuh Karuhun, telah lama larik-lariknya menjadi pedoman dalam kehidupan Suku Baduy yang terasing. Sekian darinya ialah, menutup diri dari eksistensi pendidikan formal.

Masyarakat Baduy Luar sudah mengalami pergeseran budaya dari komunitas Baduy, karena mereka sudah memperbolehkan menggunakan telepon seluler. Fenomena ini disebabkan oleh . . . 

Pertanyaan tersebut terpampang jelas pada lembar soal Olimpiade Sains Nasional Sekolah Menengah Pertama (SMP), cabang lomba Ilmu Pengetahuan Sosial tahun 2017 seleksi tulis tingkat Nasional di Pekanbaru, Riau. Tepatnya, tiga tahun sebelum namanya resmi digantikan oleh Kemendikbud sebagai ‘Kompetisi Sains Nasional’.
Ruangan ramai dipenuhi suara pelepas penat oleh anak-anak perwakilan lomba dari cabang Matematika dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sembari menunggu anak-anak perwakilan Ilmu Pengetahuan Alam selesai dengan seleksi praktikumnya, kami semua dibebaskan untuk saling berinteraksi satu sama lain, menambah relasi.
“Eh, kalian itu kontingen dari Banten, bukan? Tadi ada soal yang merujuk ke komunitas adat asli Banten, kan?” Anin namanya, kawan baruku dari Riau. Aku dan Angel, kawan sekotingenku yang tak pelik waktu itu duduk cukup berdekatan saling mengangguk bersama.
“Katanya, mereka itu tertutup sekali, bukan? Ceritakanlah sedikit.” Menjawab pertanyaan Anin, Angel menimpali, “Bisa dikatakan begitu! Mereka benar-benar tertutup , mulai dari minimnya listrik dan alat elektronik, bahkan mereka ada larangan khusus tidak diperbolehkannya mengenyam pendidikan formal!”
“Mereka benar-benar berpegang pada konsep stick to the nature. Guruku dan kawan kami dari Lebak ada katakan, bahwa salah satu jembatannya disambung dari akar pohon dengan bambu anyaman sebagai alasnya!” Aku menyahut semangat, terpaut satu-dua kursi lebih depan dibanding Anin dan Angel.
Konsep stick to the nature hanyalah salah satu dari peradatan Baduy yang telah dijaga kesuciannya turun-temurun. Begitu juga dengan budaya menutup komunitasnya dari pengaruh luar yang berlebih, semua dirangkum dalam pikukuh karuhun. Pikukuh dapat diartikan sebagai aturan mutlak, sedang Karuhun berarti turun-temurun atau moyang.
Termasuk diantaranya, larangan untuk mengenyam bangku pendidikan formal. Para Puun atau orang yang dituakan dalam strata komunitas Baduy, beranggapan bahwa dengan mempelajari menulis lewat pendidikan formal dapat mengubah kontinuitas pikukuh karuhun itu sendiri.
Begitu taatnya pada adat, strata yang tercipta pada masyarakatnya pun terbentuk dari ketaatannya pada pikukuh karuhun. Komunitas yang senang memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Urang Kanekes ini terbagi menjadi tiga.
        Urang Tangtu atau Baduy dalam, adalah yang masih memegang keseluruhan prinsip adat. Urang Panamping atau Baduy luar, adalah mereka yang hidup sudah sedikit lebih bebas tetapi masih berpegang pada pikukuh dengan erat. Urang Dangka atau Baduy dangka adalah yang terluar, kebanyakan sudah memeluk agama Islam dan mempertahankan adat-adat utamanya saja.
Aku pernah sekali bertanya pada kawanku dari Rangkasbitung, Lebak-yang terhitung dekat dengan lokasi komunitas adat Baduy itu sendiri, yaitu di Lereng Pegunungan Kendeng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten -perbedaan nyata antara Baduy dalam dan Baduy luar.
“Keadaan yang di dalam lebih ketat aturannya, Il.” Jawab Althaf kala itu. Karenanya, dalam kegamangan pemahamanku saat itu, aku sempat berpikir, kalau semisal mereka -orang-orang Baduy-tetap memaksakan kehendaknya untuk menimba pendidikan formal dan diusir dari kampungnya, apakah sama saja dengan menggadaikan budaya mereka sendiri demi seonggok kursi pendidikan?

Memunculkan pertanyaan itu, apa aku benar-benar seorang pemuda yang dengan klaimnya ‘berpendidikan’?

Aku diam sebentar. Sudah lewat tiga tahun jika aku mengingat-ingat kapan berlalunya topik percakapan tersebut dan membuatku kini kembali hanyut mencari sebuah makna yang sebenarnya. Apa arti budaya bagimu sendiri, Il?
        Tarian dengan selendang dan topeng ukiran? Nyanyian sembari memainkan alat musik tradisional? Kerajinan tangan semata? Kalau nyatanya seperti itu, arti budaya sudah terdegradasi menjadi sebuah unsur estetika semata, bukan begitu?
Padahal kalau ditelaah lagi, budaya itu tidak diwariskan secara generatif, melainkan penguasaan dan pemahamannya dicapai melalui proses belajar. Proses belajar yang terangkum dalam pendidikan pun kompleks dan tidak hanya dengan duduk di depan papan tulis lalu mencatat.
Pengajaran tentang arti-arti kehidupan lewat edukasi verbal seperti yang diajarkan oleh tetua adat kepada para pemuda kanekes saat tradisi menanam padi atau ngaseuk, merupakan bentuk lain dari belajar. Kenapa? Karena pada akhirnya, esensi dari pembelajaran yang sesungguhnya - yaitu, integrasi nilai-nilai pengetahuan dapat sampai dan kemudian diimplementasikan dalam pencapaiannya untuk menguasai sebuah budaya. Demikian kau dapat menyebutnya dengan belajar!
Aku tertegun sebentar dan sadar bahwa semuanya lebih kompleks sekarang. Pendidikan tanpa budaya pun sama saja seperti tumbuhan tak berakar. Karena lebih dari sekadar media pewarisan budaya, pendidikan juga merupakan media pembudayaan atau pengembangan dari nilai luhur yang kemudian diadaptasi dalam kaitannya untuk menghadapi perubahan-perubahan yang melingkari budaya tersebut.
Pendidikan membawa inovasi untuk menjadikan komponen masyarakatnya lebih aktif serta reaktif, kreatif, dan menerima adanya sikap keterbukaan. “Miss Ajeng, apa mereka benar-benar menolak pendidikan formal, kalau begitu?” Tanyaku pada orang yang pertama kali mengenalkanku pada komunitas adat ini.
“Mungkin dalam pandangan orang awam seperti kita, itu hal yang tidak biasa. Tapi dalam pandangan mereka yang sudah memeluk pikukuh karuhun lamanya, hal tersebut mungkin tidak menganggu mereka.”Jawabnya menjelaskan.
Tapi, eksistensi dari globalisasi juga memberikan pengaruh pada sebagian anggota komunitasnya. Sebagian tertarik untuk merasakan pendidikan formal, sebagian lagi merasa cukup dengan proses pembelajaran yang mereka dapatkan sekarang.
Seperti misalnya, Urang-urang Dangka yang sudah mulai lebih terbuka dengan eksistensi pendidikan dan menyekolahkan anak-anaknya di madrasah perbatasan kampung. Begitu juga dengan Urang-urang Panamping yang berangkat diam-diam dengan pakaian adatnya dan menggantinya dengan seragam sesampainya dalam rangka tetap menghormati pikukuh karuhun.
Bentuk penghormatan lainnya adalah dengan menyimpan buku-buku di madrasah atau warung-warung di perbatasan kampung agar tidak dianggap membawa pengaruh luar ke dalam perkampungan.
Sedang, Urang-urang Tangtu lebih memilih pembelajaran dengan gaya yang tradisional. “Dalam kunjungan Miss Ajeng di tahun 2010-2011, Miss temukan beberapa relawan pendidikan yang mengajarkan anak-anak Kanekes lewat permainan daerah seperti mengukirnya diatas tanah untuk permainan engklek atau melatih pengucapannya dengan permainan petak umpet.” Sekarang, pembelajaran dari para relawan pendidikan tersebut diteruskan oleh Urang-urang Panamping dan Dangka kepada Urang-urang Tangtu.
Pendidikan itu dicapai dengan belajar. Belajar yang memiliki artian luas, membawa aku pada kesadaran bahwa, kemajuan yang identik dengan stigma ‘berpendidikan’ memiliki standarnya tersendiri bagi tiap-tiap lapisan masyarakat.
Tidak menggunakan metode yang seragam, bukan berarti tidak merdeka belajar. Merdeka belajar pun tidak berarti menggadaikan gelora budaya yang ada. Stigma sebuah komunitas bahagia pun tidak terjerat dengan keterbatasan dalam belajar.
Tidak hidup sekadar hidup, karena babi hutan pun dapat melakukannya, tidak kerja sekadar kerja, karena kera pun juga demikian, kutip Buya Hamka.
Kalau orang sunda boleh berucap,

 

“ Sanajan teu lumpat, tapi ulah cicing.”

 

Yang artinya, Walau tak berlari, janganlah diam. Karena pendidikan selalu menjadikan tiap pelakunya aktif dan kreatif. Maka, walau pelan-pelan teruslah capai arti ‘berpendidikan’ bagimu sendiri dengan merdeka belajar, gelora budaya, dan keadaan komunitas yang bahagia!

 

Profil Penulis

Ismail Ramadhani
14 November 2002
Kota Tangerang

 

Perihal perspektif itu hal yang cukup kompleks.
Mungkin kadang hanya tinggal membalik lembaran kartunya,
tapi itu saja cukup untuk memunculkan gambar baru!

Open chat
Hubungi kami